Oleh: Andhika Mappasomba
Kukatakan kawan,
Jangan tutupi kebenaran cintamu
Sebab kebohongan akan merobohkanmu dengan perlahan
Aku melihat pahatan kesetiaan antara kalian
Mestikah usai dengan kepalsuan semu
Kukatakan kawan,
Jujurlah padanya tentang kebohonganmu
Sebelum samurai berkilat melukai
dan air mata tak akan sanggup mengobati luka berderai
Bila kau lelaki sejati, sanggupkah kau menikmati luka
yang kau sayatkan pada dada kekasihmu
yang tak henti-henti menyanyikan namamu
merindui bau tubuhmu
Bagiku,
Bukan pengkhianatan yang kau harus lakukan
tapi sebuah jalan dan kabar baru
Merekatkan cinta yang telah lama ada dan setia
Makassar, 9 November 2004
(kepada kawanku Syarief dan Nita Amriani yang bahagia)
Friday, April 6, 2007
Akulah Pecundang Setia
Oleh: Andhika Mappasomba
Kau boleh ragu pada puisi para pujangga
Kau boleh ragu pada janji para pencinta
Kau boleh tak percaya pada ungkapan cinta para lelaki duri
Kau boleh tak percaya pada bujuk rayu para pembujuk
Tapi
Kau harus percaya tentangku
Akulah pecundang setia
Tak mau mengatakan cinta yang ada
Tak mau mengakui jika tak ada mawar mekar selain kau di hatiku
Tak mau mengakui tentang mabuk kasmaranku dan rinduku pada tatapanmu
Tak mau mengakui bahwa aku ingin memilikimu utuh satu rasa suka dan haru
Aku pecundang setia yang membungkus rasa malu dengan diam
Aku pecundang setia, setia untuk tak mau mengakui rasa yang sesungguhnya
Sebab kutakut kau tahu tentang kemunafikanku yang utuh
untuk sepenggal kebenaran
Kau boleh ragu pada puisi para pujangga
Kau boleh ragu pada janji para pencinta
Kau boleh tak percaya pada ungkapan cinta para lelaki duri
Kau boleh tak percaya pada bujuk rayu para pembujuk
Tapi
Kau harus percaya tentangku
Akulah pecundang setia
Tak mau mengatakan cinta yang ada
Tak mau mengakui jika tak ada mawar mekar selain kau di hatiku
Tak mau mengakui tentang mabuk kasmaranku dan rinduku pada tatapanmu
Tak mau mengakui bahwa aku ingin memilikimu utuh satu rasa suka dan haru
Aku pecundang setia yang membungkus rasa malu dengan diam
Aku pecundang setia, setia untuk tak mau mengakui rasa yang sesungguhnya
Sebab kutakut kau tahu tentang kemunafikanku yang utuh
untuk sepenggal kebenaran
Wednesday, April 4, 2007
Untuk Sahabatku...!!!
Maafkan aku kawan, aku hanya tidak ingin kau tunjuk hidungku dan menyerahkan semua kesalahan padaku. Aku sudah berusaha semampuku untuk berbuat yang terbaik termasuk menghindar dari image "pecundang" yang sering kita bincangkan di warung kopi. Kebersamaan kita baru sesaat, mungkin belum cukup untuk kau mengenalku dan aku mengenalmu lebih dalam. Kau mungkin beranggapan bahwa aku orang yang emosional dan tempramental tapi aku tidaklah seperti itu. Aku tidak berusaha membenarkan diriku dengan mempertontonkan emosi di hadapanmu tapi aku sangat tidak ingin kau menunjuk hidungku dan seakan melimpahkan semua kesalahan padaku yang notabene untuk kepentingan bersama dan menganggap bahwa akulah yang "berkoar-koar" tapi tak mampu melakukan apa-apa. Aku hanya bertanya dalam hati, kenapa semua itu menjadi salahku, mengapa ini tidak menjadi tanggung jawab kita bersama.
Mungkin dunia kampus telah mengajariku bahwa berbuat bukan hanya untuk diri, tapi berbuat untuk orang-orang di sekitar kita termasuk untuk sahabat apalagi jika di dalamnya ada sedikit kepentingan kita. Jika kita hanya mau berbuat apabila di dalamnya ada kepentingan kita, maka dimana kepekaan itu sebagai makhluk yang tidak bisa hidup sendiri.
Mungkin aku salah menafsirkan atau mungkin terlalu sensitif memaknai apa yang terjadi. Untuk semua itu, atas nama persahabatan aku memohon maaf.
(Untuk sahabat-sahabatku di Warung Kopi)
Mungkin dunia kampus telah mengajariku bahwa berbuat bukan hanya untuk diri, tapi berbuat untuk orang-orang di sekitar kita termasuk untuk sahabat apalagi jika di dalamnya ada sedikit kepentingan kita. Jika kita hanya mau berbuat apabila di dalamnya ada kepentingan kita, maka dimana kepekaan itu sebagai makhluk yang tidak bisa hidup sendiri.
Mungkin aku salah menafsirkan atau mungkin terlalu sensitif memaknai apa yang terjadi. Untuk semua itu, atas nama persahabatan aku memohon maaf.
(Untuk sahabat-sahabatku di Warung Kopi)
Subscribe to:
Posts (Atom)