Showing posts with label Diary. Show all posts
Showing posts with label Diary. Show all posts

Tuesday, May 4, 2010

Kehilangan ROH

Apa yang terjadi? Sudah tidak terhitung draft yang kemudian tetap menjadi draft atau bahkan sudah menghilang menjadi sampah. Andai entri adalah lembaran-lembaran kertas maka lembaran itu sudah berserakan dimana-mana.

Sering, sangat sering aku duduk menghadap monitor dan menyentuh tuts keyboard untuk merangkai kata, belum cukup sepenggal aku kemudian bosan, berdiri dan kembali lagi untuk menghapusnya. Sekali lagi semua menjadi sampah.

ROH, roh itu telah hilang dari blog ini. Arahnya tak jelas lagi entah ke mana. Aku bingung, entah karena persoalan hidup yang akhir-akhir ini mengguncang terlalu kuat sehingga untuk berdiri saja aku seolah tidak mampu lagi. Begitulah, ketika harus fokus ke lembaran-lembaran rupiah untuk membayar harga diri.

Aku bingung mau menulis apa, maka jadilah tulisan sampah ini. Tulisan tidak bermakna yang saya sendiri tidak ingin menjadi bagian dari google untuk dimasukkan ke mesin pencari mereka, yang ketika Anda temukan dan nyasar ke blog ini, Anda kemudian menjadi salah satu yang menganggap bahwa blog ini telah kehilangan ROH.

Ini blog tentang apa? Aku tidak tau lagi...

Wednesday, December 16, 2009

Prihatin dengan Keadaan

Saya tidak sedang membicarakan kondisi negara kita yang saat ini sedang carut marut dengan berbagai masalah yang membelitnya. Sebagai warga negara, saya hanya berharap semuanya cepat selesai.

Saya prihatin dengan nasib blogku beberapa minggu terakhir. Pada saat sedang berjuang meningkatkan rangking Alexa blog ini dan blog-blog yang lain, tiba-tiba aku harus merelakannya terbengkalai sementara waktu. Semua itu terjadi karena aku mengalami keanehan, alergi dan tiba-tiba neg (ingin muntah) ketika menatap monitor komputer apalagi terhubung ke internet. Hampir tidak percaya bahwa ternyata itu disebabkan karena saya mengidam. Adakah penjelasan medis yang menyatakan bahwa suami juga bisa ngidam di usia kehamilan istri yang telah menginjak 7 bulan? Jika iya, bisakah seaneh ini? Anti dengan komputer dan internet yang sebelumnya adalah aktivitas rutin dan sumber hidup?

Friday, October 2, 2009

PUANGKU

Inilah PUANGKU (panggilanku untuk ayahku), dengan setelan jasnya. Gambar ini diambil tahun 2005 saat aku Wisuda S1 di Universitas Negeri Makassar (UNM). Seingatku, PUANG baru dua kali mengenakan setelan jas lengkap, yang pertama waktu aku wisuda itu dan yang kedua saat aku menikah bulan Mei 2009 kemarin.

PUANG, bukan pejabat, bukan pegawai negeri atau pun swasta. PUANG hanyalah seorang petani yang menggarap tanah miliknya yang hanya 1/4 hektar. Dengan tanah seluas itu PUANG menghidupi aku, ibuku, dan adik perempuanku. Tanah itu tentu saja tidak cukup untuk mengganjal perut kami agar tetap bisa bertahan hidup. Untuk itu, PUANG harus mencari sumber makan yang lain. Waktu aku kecil, PUANG membuat sapu ijuk dan menjualnya ke pasar dengan berjalan kaki sekitar 8 - 10 km. Puang rela berjalan kaki agar uangnya tersimpan untuk membeli kebutuhan kami sekeluarga katanya.

Jika musim panen padi tiba, maka PUANG berubah profesi jadi buruh. Membantu orang yang memiliki sawah memanen padi dengan imbalan gabah tentunya. Itulah yang menyambung hidup kami sehingga tidak kehabisan beras karena beras belum habis, musim panen datang lagi dan PUANG kembali menjadi buruh. Begitu seterusnya.

Beban paling berat dipikul PUANG saat aku kuliah yang membutuhkan banyak biaya. Di usianya yang semakin tua, PUANG masih tetap semangat untuk membuatku berhasil. Untungnya aku dapat beasiswa sejak semester I, sehingga beban PUANG sedikit ringan. Tetapi tetap saja PUANG harus pontang panting untuk membiayai kuliahku. Sejak aku kuliah puang beralih profesi, selain tetap menggarap tanahnya yang 1/4 hektar, PUANG membuat atap dari daun rumbia yang kemudian dijualnya. Dari penghasilannya itulah aku bisa menjadi Sarjana. Dan betapa bangga dan bersemangatnya PUANG mengikuti prosesi Wisudaku di Makassar yang berjarak 200 km dari kampungku. Itulah pengalaman pertama puang meninggalkan kampung naik mobil sejauh itu.

Setelah selesai kuliah, aku kemudian mendapat rezeki lulus PNS di Parepare yang jaraknya sekitar 400 km dari kampung halaman. Jadilah aku jauh dari PUANG dan keluarga meski aku berada jauh atas restu mereka juga.

Mengapa aku tergerak menceritakan ini, karena besok aku akan pulang menengok PUANG. PUANG sedang sakit dan sepertinya harus dibawa ke rumah sakit. Sudah seharunya semuanya dibalik, aku yang mengurus PUANG tidak lagi seperti dulu. Andai Tuhan mengijinkan, aku ingin segera memiliki rumah sendiri di kota tempatku bekerja agar bisa memboyong keluargaku ke sini, agar aku bisa menjaga mereka dan mencukupi segala kebutuhannya. Amin. Untuk teman-teman yang sempat membaca cerita ini, tolong minta doanya semoga PUANGKU tidak apa-apa.

AKU sayang PUANG...
Semoga semangat PUANG yang menyala-nyala ketika berbicara haji, bisa aku wujudkan dan memberangkatkan PUANG ke tanah suci. Amin. Beri aku kemampuan untuk itu Ya... ALLAH...

Wednesday, September 16, 2009

Kering, Terulang, Begitulah Adanya

Bagai ladang kering tak terurus, bahkan ilalang pun enggan tumbuh atasnya. Begitulah gambaran blog ini yang kering inspirasi. Beberapa teman sempat menengok blog ini dan bertanya mengapa blog ini tidak terurus, aku hanya bisa menarik nafas lesu. Mungkin sumur ide itu telah mati, bahkan tulisan ngawur pun tak mampu lagi tercipta untuk menghiasi blog ini.

Blog ini aku bangun dari NOL, tanpa sedikit pun pemahaman tentang blog. Mendengar nama blog saja saat itu bagai mendengar kata asing yang baru muncul dari langit. Aku sekolah, kuliah bukan di bidang IT tetapi kependidikan dan sains. Aku seorang guru yang bergelar Sarjana Pendidikan jadi sangat jauh dari pengetahuan tentang blog. Blog ini ada karena terpaksa, dipaksa oleh boss tempatku bekerja sebelumnya. Jadilah blog ini dengan apa adanya dan nanti sekitar setahun kemudian baru mengalami perbaikan seiring dengan pengetahuan blog yang perlahan-lahan mengisi benakku.

Blog ternyata menyenangkan, begitu pikirku saat mulai mengelola blog ini. Maka jadailah blog ini tempat mencurahkan perasaan dan pikiran, tidak lebih dari itu. Seiring dengan berjalannya waktu, saat pemahaman tentang blog semakin baik, orientasiku dalam dunia blogging tergeser. Aku mulai tergiur dengan penghasilan yang bisa diperoleh dari blog. Aku kemudian membuat satu blog lagi dan menyusul blog yang lainnya.

Dalam perjalanannya, aku kemudian kembali lesu karena memperoleh penghasilan dari blog ternyata tidak mudah. Aku seakan depresi dan sangat membenci blog sehingga sebelum keterlantaran yang sekarang, dulu aku pernah menelantarkan blog ini bahkan memutuskan meninggalkannya. Ya, aku kecewa, depresi karena tidak berhasil mencapai apa pun.

Kemudian aku kembali, blog ini bergerak lagi. Dan kemudian terhenti lagi. Mungkin memang begitu nasib blog ini. Saat ini aku sudah menemukan jalan yang dulu tak aku temukan. Aku temukan berbagai celah di internet yang bisa menjadi sumber penghasilan. Aku kemudian merancang sebuah blog untuk membahas peluang-peluang yang saya sebut Bisnis Internet itu, dan aku menamainya Belajar Bisnis Internet karena memang aku masih terus belajar. Karena kesibukan itulah, blog ini terlantar lagi karena jujur saja, mengelola banyak blog ternyata cukup memusingkan.

Blog ini tempatku belajar, mengenal setiap titik/pixel dari blog. Mengenal bahasa HTML sedikit demi sedikit, mengenal XML, javascript dan segala sesuatu yang berkaitan dengan editing blog. Semua itu terjadi dari blog ini. Inilah karya pertamaku, karya yang kuanggap terbesar dalam hidupku karena memang aku belum pernah bisa membuat karya apa pun.

Wednesday, March 11, 2009

Kita Pernah Begitu Dekat…

(Judul ini diadopsi dari sebuah cerpen dalam bulletin Quanta yang ditulis oleh senior kami, bulletin yang diterbitkan oleh jurnalis-jurnalis jurusan Fisika FMIPA UNM yang dibagikan sesaat setelah mengikuti Orientasi sebagai Mahasiswa Baru Fisika Angkatan 2000 yang disingkat Mafia ‘2K. Tetapi seiring perjalanan waktu, Bulletin Quanta tinggallah nama)

Tergerak dari tulisan sahabatku Mhomank (AMY), maka hadirlah tulisan ini untuk sekedar membuka lembaran indah masa kuliah bersamanya sebagai sahabat, teman bahkan saudara. Telah lama aku ingin menulis tentangnya tetapi baru saat ini tersampaikan, mungkin karena memang selama ini aku telah kering inspirasi yang tidak kusadari kapan kekeringan itu bermula.

Dalam postingan di blognya yang diberinya nama Catatan Kontemplasi, saudaraku Mhomank bercerita tentang pengalamannya dalam dunia blog yang di sana menyelipkan namaku sebagai salah satu yang dianggapnya guru dan itu cukup membuatku tersanjung. Tetapi sejujurnya terbersit rasa malu dalam diriku karena aku belumlah sampai pada kapasitas sebagai guru dalam dunia blog. Aku hanya kebetulan sedikit kenal dengan dunia bloger dan hingga hari ini belum juga bisa memahaminya. Mungkin aku hanya lebih dulu kenal dengan dunia blog sehingga kondisinya terbalik, hanya persoalan waktu.

Tetapi, terima kasih kawan. Aku anggap kata “Guru” itu sebagai motivasi dan inspirasi untuk lebih memahami dunia blog ini karena dari dulu kamu memang sering menjadi sosok motivator dan inspirator untukku.

Tetapi kawan, tahukah engkau dari mana semua ini berawal? Ngeblog tidak bisa lepas dari kemampuan komputer. Tidak mungkin seseorang bisa ngeblog jika menekan tuts keyboard saja tidak bisa. Berbahagialah peserta didik sekarang yang sejak SMP sudah mengenal komputer karena telah ada dalam kurikulum. Aku sendiri mulai mengenal komputer mulai dari nol saat duduk di bangku kuliah tepatnya tahun 2000 silam, sangat terlambat. Tetapi bukankah orang bijak mengatakan “tidak ada kata terlambat untuk belajar”. Meski kemampuan komputerku tidaklah hebat tetapi setidaknya aku tidak “buta teknologi” khususnya komputer.

Ada banyak aktor yang membantuku belajar komputer karena aku tidak pernah kursus di lembaga kursus. Ada banyak telinga yang harus aku usik dengan pertanyaan-pertanyaan, ada banyak waktu orang lain yang aku sita untuk mengajariku sehingga tidak tepat jika aku menyebutnya otodidak. Salah satu aktornya adalah Mhomank. Saat aku masih merangkak mempelajari komputer, kawanku itu sudah berjalan bahkan sudah berlari. Ketika aku masih melatih jari mengenal tuts, kawanku itu telah mahir instalasi karena mengetik baginya saat itu hanya seujung kuku alias terlalu mudah. Dia mampu mengetik tanpa menatap monitor apalagi keyboard tetapi hanya fokus pada teks yang akan diketik dan luar biasanya nyaris tanpa kesalahan.

Aku banyak belajar darinya atau bahkan lebih banyak mencuri ilmu darinya terlebih karena memang hampir setiap hari kami bersama. Saat Mhomank terpilih sebagai Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Fisika (HIMAFI) FMIPA UNM, dia mempercayaiku untuk mendampinginya dalam kepengurusan sebagai Sekretaris Umum padahal aku adalah salah satu kompetitornya dalam pemilihan namun sayang namaku harus tercoret dari kertas suara sesaat sebelum pemilihan karena arogansi ketua Jurusan Fisika UNM saat itu yang tidak menginginkan aku masuk dalam bursa calon ketua umum dengan tidak bersedia menandatangani Transkrip Nilaiku yang menjadi salah satu persyaratan sebagai calon ketua umum. Selepas dari Himpunan Mahasiswa Fisika (HIMAFI) kami masih terus bersama dalam naungan FISIKOM yang kami bangun bersama sebagai sebuah unit usaha untuk membantu penyelesaian kuliah kami. Wah… penjelasannya jadi melebar…

Pernah suatu hari, aku dipanggil untuk menginstal komputer di salah satu organisasi daerah Kabupaten Bulukumba (KKMB) padahal saat itu aku masih belum begitu mahir dalam urusan ini. Tetapi aku beranikan diri untuk mencoba dan alhasil aku jadi merepotkan kawanku Mhomank yang harus mengajariku lewat telpon karena ada banyak bagian yang tidak mampu aku selesaikan. Tetapi dengan penuh kesabaran Mhomank membimbing langkah demi langkah dan pada akhirnya komputer itu selesai juga.

Jika Mhomank menganggapku guru dalam blog, siapakah guru yang sebenarnya?. Sekali lagi ngeblog tidak akan bisa tanpa mengenal komputer. Tetapi begitulah Mhomank yang memiliki banyak keistimewaan dibalut sosoknya yang sederhana dan santai.

Keistimewaan itu telah dia buktikan dengan berhasil menjadi dosen di Jurusan Fisika Fakultas MIPA Universitas Negeri Makassar, di almamater tempat kami bertemu, bersama, bersahabat, bersaudara. Tidak pernah terlintas dalam pikiranku sekali saja sebelumnya sosok yang kukenal di pendopo taman FMIPA UNM saat kami berdua mahasiswa baru adalah cikal bakal seorang dosen, yang aku yakin dengan melihat semangatnya bahwa suatu hari nanti Dia akan menjadi guru besar.
Kusimpankan nama ini untukmu kawan:

Prof. A. Momang Yusuf, S.Si, M.Pd, M.Sc, PhD

Kelak jika suatu hari nanti nama itu muncul di media, di seminar-seminar lokal, regional, nasional atau mungkin internasional, maka akan kuceritakan dan akan kubanggakan kepada anak cucuku bahwa nama itu adalah kawanku…

Sunday, March 1, 2009

Bodoh... Sialan...

Ingin kutertawa, menertawakan diri yang pelupa. Aku ingat sebuah pepatah "hanya keledai bodoh yang jatuh ke lubang yang sama dua kali". Untukku, bukan dua kali tapi sudah ketiga kalinya. Seperti kemarin, aku lupa bahwa di lingkungan tempatku mengajar banyak orang-orang yang mau tampil mentereng tetapi tidak mau membeli atau bahkan mereka memang tidak memiliki kemampuan untuk itu.

Ini ketiga kalinya aku kehilangan barang yang sama, bahkan 2 kali terjadi di lingkungan sekolah tempatku mengajar dan 1 kali lagi di salah satu puskesmas di Parepare. Mungkin ini kebodohan, kecerobohan yang tidak juga bisa membuatku belajar atau mungkin karena pikiranku terlalu dangkal yang menganggap semua orang sama dalam berpikir bahwa tidak akan mau mengambil barang orang lain yang bukan haknya.

Kata orang, kemiskinan mampu menggelapkan mata tetapi aku sendiri miskin dan masih memegang prinsip bahwa tidak akan pernah mengambil milik orang lain yang bukan hak. Setidaknya itulah warisan berharga yang diamanatkan orang tuaku, yang diajarkan padaku setiap saat bahkan lebih mirip senandung pengantar tidur karena masa kecilku tidaklah ditemani senandung dari TV atau radio tape, apalagi MP4 player, Iphod dan semacamnya. Kami terlalu miskin untuk memiliki semua itu. Orang tuaku ajarkan itu tidak dengan suara bising euforia kota, tetapi di sebuah perkampungan kecil yang lebih tepatnya disebut daerah terpencil.

Dalam pelajaran PKn aku pernah mendengar guruku bilang bahwa kehidupan sosial di daerah pedesaan jauh lebih baik dari daerah perkotaan. Setidaknya aku bisa mengangguk mengiyakan kata-kata guruku itu. Karakter yang terbangun dengan budaya modernitas sangat jauh berbeda dengan karakter masyarakat yang mengutamakan hubungan sosial di atas segalanya, dan hingga hari ini budaya dan ajaran-ajaran orang tua kepada anaknya masih tetap mereka bisikkan ke telinga anak-anak mereka sebelum tidur. Tetaplah lesatari budayaku... Kegemerlapan kota tak akan mampu memudarkanmu. Tertawalah kepada mereka yang tak lagi memiliki nurani, tak lagi memiliki adat kesopanan dan tak lagi memiliki kepekaan sosial.

Seharusnya aku belajar...

Friday, November 7, 2008

Aku Belum Mati...

Sumber inspirasi itu belum mati, sumur itu belum juga kering tetapi waktu seakan berusaha keras membunuhnya dan menyerap habis sisa airnya. Atau aku hanya terlalu phobia dengan waktu yang terlanjur membencinya dan membalasku karena aku selalu meng-kambing hitamkannya.

Aku mungkin terjerat dalam kesesatan zaman, melilitku dengan tangannya yang tidak terbatas jumlahnya bak gurita. Tubuhku tak lagi nampak sehingga aku seakan bagian darinya karena dia menutupi diriku dan menghilangkan identitasku. Kenapa aku harus sampai ke titik ini, aku tidak lagi bisa melihat dunia selain cengkraman tangan gurita zaman yang semakin kuat mencengkram tubuhku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu, menunggu takdir menjatuhkan pilihan. Entah esok aku masih ada, karena hari ini pun begitu sulit kulalui.

Tuesday, February 5, 2008

Lelah Memaknai SAYANG

Sayang...
Lama kupandangi kata itu...
Aku bingung akan memaknainya seperti apa...
Aku bingung akan mendefinsikannya seperti apa...

Sayang...
Apa maksud dari kata itu...
Mungkin aku yang terlalu bodoh sehingga tak tau
Tetapi sejujurnya aku memang benar-benar tidak tau

Aku hanya sering mendengar bahwa SAYANG itu luapan rasa
Ketika menyayangi, tidak ingin membuat yang disayang tersakiti
Tapi apa masih sayang jika yang mengaku menyayangi justru menyakiti?

Tolong, bantu aku menemukan jawabnya...
Tolong, bantu aku memaknainya...
Tolong, bantu aku mendefinisikannya...

Tuesday, January 29, 2008

Selamat Tinggal SSCI

14 Nopember 2005 aku mulai bekerja di Sistem Sekolah Cerdas Indonesia (SSCI), perusahaan yang bergerak di bidang Teknologi Informasi. Saat itu aku diterima di salah satu cabangnya yang ada di Kota Makassar dengan sebutan Makassar Cyber Education Center (MCEC).

Pada tanggal 06 Juni 2006 aku dipindahtugaskan ke cabangnya di Kota Parepare (kota terbesar kedua setelah Makassar di Sul Sel) tepatnya di Parepare Cyber Education Center (PCEC) bersamaan dengan aku terimanya Surat Keputusan (SK) pengangkatan sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) setelah dinyatakan lulus seleksi pada bulan Maret 2006. Sejak pemindah tugasan itulah aku menjalani rangkap pekerjaan. Menjalankan tugas CPNS sebagai tenaga pengajar bidang Fisika di SMP Negeri 5 Parepare dan bekerja di PCEC sebagai staf pendamping.

Tanggal 17 Januari 2008 aku ditetapkan sebagai PNS defenitif di Kota Parepare dan tidak lama berselang tepatnya hari ini, tanggal 29 Januari 2008 aku harus resign dari SSCI karena masa kontrak proyeknya di Kota Parepare telah berakhir (setidaknya begitulah penjelasan yang aku baca di surat pemberhentian yang aku terima tertanggal hari ini).

Selama kurang lebih 441 hari aku mendedikasikan diri untuk SSCI dan telah bekerja di dua cabangnya (MCEC dan PCEC). Ada banyak cerita sepanjang waktu itu yang tidak mampu aku ungkap semua. Laksana dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan, begitu pula dinamika dan pahit manis aku rasakan bekerja di perusahaan ini. Terlalu banyak manis yang terukir dan sejumlah keberuntungan yang aku peroleh dibanding pahit yang harus kujalani meski harus meninggalkan SSCI tanpa pesangon dan hanya sekali menerima kenaikan insentif, itupun tiga bulan sebelum pemberhentian ini. Tetapi bagiku itu bukanlah masalah dibanding andil SSCI dalam membantuku meraih dan mewujudkan impianku.

Insentif yang aku terima dari SSCI setiap bulan memang tidak banyak tetapi itu mampu menghidupi aku, keluarga terutama adik perempuanku semata wayang sehingga bisa tetap bersekolah, dan sedikit membantu sepupuku yang masih kuliah. Selain itu, aku diperbolehkan tinggal di kantor PCEC karena aku pendatang di Kota Parepare dengan tidak harus memikirkan makanan dan aktivitas membersihkan pakaian karena semuanya ditanggung oleh perusahaan. Minimal itu yang mampu aku uraikan dari sisi material yang aku rasakan di perusahaan ini.

Bagiku, SSCI bukan hanya sekedar mencari penghasilan tetapi lebih dari itu yang tidak bisa aku ukur dengan hitungan materi. Aku ada di kota Bandar Madani Parepare ini sebagai abdi negara berlabel PNS sedikit banyaknya dipengaruhi oleh SSCI sehingga keberanian untuk jauh dari keluarga dan mengambil langkah pasti mendaftar CPNS di kota yang sebelumnya sangat asing bagiku. Mungkin niat awal aku mendaftar CPNS di Kota Parepare sangat materialistis karena salah seorang petinggi SSCI saat itu memberikan jaminan bahwa aku akan tetap bekerja di perusahaan ini jika dinyatakan lulus dan bekerja di PCEC yang saat itu baru tahap perencanaan pembukaan cabang.

Semua terbukti, saat aku dinyatakan lulus CPNS bersamaan dengan pembukaan cabang, aku tetap dipanggil untuk bekerja. Aktivitas SSCI adalah dalam dunia pendidikan dan bersentuhan dengan Dinas Pendidikan sehingga membuka jalurku untuk mengenal beberapa petinggi Dinas yang notabene menaungiku dalam rutinitas PNS sebagai seorang guru. Semua mempermudah aku, termasuk mengatur penempatanku yang sebelumnya di sekolah terpencil dipindahkan ke sekolah bergengsi. Tidak berhenti di situ, karena aku memperoleh “surat sakti” dari Kepala Dinas Pendidikan yang meminta sekolah tempatku mengajar untuk memberi kelonggaran padaku untuk menjalankan aktivitas di luar sekolah.

Aku masuk ke SSCI dengan bekal kemampuan komputer dan internet yang sangat minim padahal itu adalah syarat utama untuk bekerja di perusahaan ini. Di sinilah aku belajar meski tak sampai bisa dikatakan hebat. Dari sinilah blog ini hadir, berawal dari keharusan yang ditugaskan kepada semua karyawan saat itu. Aku sangat buta dengan dunia blogging, sehingga sempat tidak terurus. Tetapi melalui proses belajar sehingga blog ini bisa seperti sekarang. Satu-satunya yang membuat aku berat meninggalkan SSCI karena alasan blog ini. Akankan blog ini akan selalu eksis, dimana aku harus mengakses dan meng-update-nya sementara warnet di kota ini sangat terbatas. Akankah aku harus mengucapkan selamat tinggal untuk blog ini? Aku tidak tega...

Semua harus aku tinggalkan hari ini. Hanya satu kata yang aku ingin ucapkan. Terima Kasih.
  • Terima kasih kepada Ibu dr. Ulla Nuchrawaty, MM selaku direktur SSCI
  • Terima kasih kepada Bapak Ir. Fajar Sasongko, MM,. M.Kom selaku Project Manager PCEC
  • Terima kasih kepada Ibu Kusbini Musa selaku salah satu manager di SSCI yang telah memperkenalkan dan mempromosikan aku ke petinggi Dinas Pendidikan Kota Parepare dan memberi aku jalan masih tetap bekerja di PCEC
  • Terima Kasih kepada Bapak Ir. Akrim Hanafi selaku mantan petinggi di SSCI yang telah keluar terlebih dahulu
  • Terima kasih kepada semua rekan-rekan karyawan, baik yang masih bertahan maupun yang telah meninggalkan SSCI. Dari kalianlah aku banyak belajar, dan esok entah kepada siapa lagi aku akan belajar.
Terima kasih untuk sahabat-sahabatku yang aku kenal dari dunia maya (fasilitas SSCI) yang kemudian menjadi sahabat sejatiku bahkan mungkin lebih dari itu.
  • Rifqa Nukman (Karyawan Grai Halo Telkomsel Bulukumba yang saat ini telah lulus CPNS di Kab. Maros bidang Pariwisata). Seorang kakak yang selalu memberi nasehat, terkadang jengkel dengan sikapku.
  • Marhama Mappangara (Karyawan STAR Telkomsel Parepare). Seorang adik yang manja, kadang menangis untuk memperlihatkan rasa, kadang menyakitkan atas sikapnya.

Thursday, January 17, 2008

Penantian Kejelasan Status

Pukul 05.45 Wita terdengar suara bising, tak lama berselang suara bising itu bertambah dan kali ini terdengar suara adzan berkumandang disertai getaran kecil. Suara bising itu dari alarm kedua hapeku yang sengaja aku setting dua-duanya sebagai antisipasi ekstra untuk membangunkanku yang selama ini hanya menggunakan salah satu hape untuk alarm. Kebiasaan burukku belum juga hilang, terlambat bangun pagi. Segera aku bergegas bangun walau mata masih terasa berat dililit rasa ngantuk. Kulirik kedua rekan kerjaku (Ma’ruf dan Gafur) yang masih terlelap tidur di kasur masing-masing, mungkin mereka sedang bermimpi, entahlah... Aku segera bergegas keluar kamar, khawatir tergoda untuk tidur lagi.

Aku menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu (hal yang selama ini jarang aku lakukan karena sudah terlalu jauh dari Tuhan), kemudian menuju kamar pakaian untuk bersujud. Aku melangkah ke beranda, ternyata semalam aku lupa menutup pintu sebelum bergegas tidur sekitar pukul 1.30 wita. Ketika ada orang baru datang ke tempat kami ini, mereka mengatakan tempat ini surga karena letaknya di bukit dan di depannya terhampar lautan yang sesekali dilalui kapal PELNI karena di sekitar situ ada pelabuhan nasional (pelabuhan yang sangat terkenal dengan ketidakteraturaannya). Aku melangkah menuruni anak tangga dan melakukan gerakan-gerakan (orang bilang itu olahraga). Aku melangkah keluar gerbang sambil berlari kecil dan terus menuju jalan raya. Di sana aku melihat seorang lelaki yang mungkin sebaya denganku berlari kecil tanpa menggunakan alas kaki. Aku tidak berniat melakukan hal yang sama, aku berlari kecil lagi untuk kembali dan segera mandi.

Setelah mandi aku segera menguber lemari pakaian, mencari seragam KORPRI yang sangat jarang aku pakai karena hanya digunakan pada tanggal 17 setiap bulan. Kulirik diri lewat cermin, nampak ke-bapak-an sekali. Di meja makan belum tersedia sarapan karena layanan catering biasanya diantar di atas jam 7 (hal yang selalu aku protes) karena biasanya aku harus keluar sebelum jam 7 terutama hari Senin untuk upacara di sekolah.

Hari ini pukul 07.00 di halaman kantor Walikota aku harus mengikuti acara pelantikan dan pengambilan sumpah untuk diresmikan menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) setelah sekian lama menyandang gelar Calon Pegawai Negeri sipil (CPNS), tepatnya sejak SK CPNS aku terima bulan Juni 2006. Selama itu pula aku hanya menerima gaji 80% dari gaji yang seharusnya, sebuah aturan yang mutlak harus dilalui. Dan hari ini (17/01/08) status CPNS itu akan berakhir dan berubah menjadi PNS defenitif dengan hak gaji 100% dan tunjangan lainnya setelah melengkapi keperluan administratif termasuk Prajabatan. Proses penantian ini sebenarnya sempat menghadirkan sesak karena dianggap terlalu lama mengingat daerah lain sudah mendefenitifkan CPNS nya menjadi PNS.

Pukul 06.55 wita aku segera berangkat dengan menunggangi Blacky, letaknya tidak terlalu jauh dari tempatku karena tidak sampai 1 km. Di kantor walikota sudah banyak orang-orang dengan seragam yang sama, tetapi aneh karena banyak muka yang tidak aku kenali. Aku berpikir mungkin mereka dari golongan I dan II yang prajabatan terpisah sehingga aku tidak mengenalnya. Belakangan aku ketahui bahwa hari ini juga akan dilakukan penyerahan SK untuk CPNS honorer yang diterima tahun 2007. Jadi ada dua acara, pelantikan CPNS menjadi PNS dan penyerahan SK untuk CPNS yang baru dinyatakan lulus.

Aku terheran-heran karena semua kaum adam menggunakan kopiah, wah gawat. Ternyata satu aturan tidak aku penuhi. Segera aku putar motor untuk kembali mencari kopiah. Karena kopiahku tertinggal di kampung saat lebaran, maka terpaksa aku pinjam kopiah dari teman kerja yang saat aku kembali sudah terbangun. Aku segera meluncur kembali ke kantor walikota. Kami diarahkan untuk membentuk barisan dan melaksanakan geladi. Tidak lama berselang, kendaraan dinas Walikota memasuki halaman kantor walikota pertanda acara akan segera dimulai.

Acara berlangsung khidmat, dan moment bersejarah akhirnya tiba yaitu pengucapan sumpah pelantikan sebagai pertanda perubahan status. Pengucapan sumpah dipimpin langsung oleh Walikota Parepare H. Muh. Zain Katoe dan kami didampingi oleh rohaniwan sesuai agama masing-masing sebagai simbol keabsahan sebuah sumpah. Salah satu poin yang aku catat dari sumpah itu adalah mengesampingkan kepentingan diri, seseorang, sekelompok orang di atas kepentingan bangsa dan negara. Sempat aku tertegun, dapatkah semua itu terpenuhi? Terlalu idealkah sumpah itu? Sekilah memang demikian tetapi itu sudah seharusnya sebagai abdi negara dan pelayan masyarakat berlabel PNS. Aku tau sangat sulit tetapi aku akan berusaha. Aku kemudian teringat kepada korupsi, kolusi dan nepotisme yang banyak dilakoni oleh para pejabat yang sebagian besar adalah PNS. Pernahkan mereka mengucapkan sumpah ini? Lalu menguap ke mana implementasinya. Mungkin terlalu dini untuk mempertanyakan semuanya.

Sekarang aku resmi menjadi PNS, seorang abdi negara dan pelayan masyarakat di bidang pendidikan sebagai tenaga pendidik dengan spesifikasi mata pelajaran Fisika (mata pelajaran yang menjadi momok nan angker bagi sebagian orang). Aku berjanji akan berusaha melakukan tugasku sebatas kemampuanku, mengubah kebobrokan akibat jiwa yang masih kekanak-kanakan dan minimnya kesadaran dan pemaknaan akan sebuah tanggung jawab. Profesi ini memang tidak menjanjikan kekayaan karena katanya penghasilannya pas-pasan kalau tidak ingin dikatakan kurang tetapi profesi ini menjadi jaminan sampai hari tua bahkan sampai ketika telah mangkat sekalipun.

Sebuah tonggak sejarah telah terukir, saatnya memperlihatkan karya dan kesungguhan agar kelak menjadi abdi negara dan pelayan masyarakat yang sesuai harapan dan jika memungkinkan mengakhiri profesi ini dengan bintang jasa, walau sangat lekat dalam ingatan sebuah lagu nasional tentang profesiku, PAHLAWAN TANPA TANDA JASA

Thursday, January 10, 2008

Kembali Ke Kilometer 0,0 (Nol Koma Nol)

Jika Andi Alfian Mallarangeng yang berdarah Sul Sel menulis sebuah buku dengan judul Dari Kilometer 0,0 maka tulisan ini saya beri judul Kembali ke Kilometer 0,0. Maaf, bukan maksud ingin menjadi tenar seperti beliau yang telah menjadi orang penting di negeri ini sebagai penyambung lidah Presiden RI. Aku hanya ingin kembali bercerita tentang diriku, siapa diriku? Mungkin tak ada yang mengenalku... (setidaknya hingga hari ini), menjadi penyambung lidah untuk diriku sendiri, entah untuk siapa. Mungkin hanya pengejawantahan dan wujud kegelisahan.

Sekilas judulnya sama tetapi makna yang tersampaikan sangat jauh berbeda. Jika Pak Andi dengan tulisannya Dari Kilometer 0,0 menulis untuk memberi pencerahan untuk semua orang untuk bersikap optimis dan postifif dengan kata DARI, maka aku dengan tulisanku Kembali Ke Kilometer 0,0 hanya akan menceritakan keputusasaan yang seakan tanpa harapan dengan kata KEMBALI. Sangat kontradikitif antara sebuah langkah maju dengan kemunduran.

Perjalan hidup telah mengantarku berada di titik ini, titik dimana aku harus memaksa diri menoleh ke belakang yang ternyata jauh lebih baik. Pasang surut dalam perjalanan hidup memang biasa terjadi yang turut mewarnai hidup tetapi yang kualami akhir-akhir ini tidaklah seperti datangnya pasang surut sebagai sebuah fenomena alam yang lazim terjadi. Tidak sesederhana itu, aku merasa ini badai yang meluluh lantakkan semua yang kupunya. Keyakinan, semangat, anggota tubuh, dan yang lebih parah aku nyaris kehilangan harga diri atau mungkin aku sudah tak memilikinya lagi tanpa kusadari.

Mungkin saat inilah kedewasaanku teruji, bukan remaja atau anak-anak lagi yang harus mengikuti arus yang semestinya bukan tempatku lagi, memaksakan keinginan yang sama sekali tak mampu kuraih dan mengesampingkan prinsip rasionalitas. Berhenti bermain dadu layaknya anak kecil, tertawa terbahak dan sekali-kali meratap layaknya seorang remaja, mengumbar hasrat dengan pikiran kosong tanpa memperhitungkan apa-apa.

Ya... itu bukan duniaku lagi. Seharusnya semua itu aku lepaskan demi kehidupan yang lebih baik, lebih dewasa dan lebih bermartabat. Tidak lagi menginjak diri sendiri, mempermalukan diri sendiri, menyakiti diri sendiri.

Sejenak aku tersadar, ini bukan salah siapa-siapa. Akulah yang menciptakan semua ini, aku telah menyiksa diriku sendiri, aku telah bermain dengan api, mengejar fatamorgana yang tak lebih dari bayang-bayang semata, melampiaskan keinginan dan hasrat tanpa tujuan. Aku telah menyiakan sejengkal masa hidupku yang seharusnya lebih berarti. Itu bukan aku... itu bukan aku... itu bukan aku....

Ada apa di titik ini yang membuatku muak dan sangat ingin kembali ke belakang, ke kilometer 0,0 untuk menata semuanya kembali menjadikannya lebih baik dari hari ini. Tuhan, aku menyesal berada di titik ini.

Kembalikan aku ke titik 0,0 itu...

Sunday, December 30, 2007

Selamat Datang 2008, Selamat Tinggal 2007 (Kelam)

Perjalanan waktu mengantar kita ke penghujung tahun 2007 dan menyongsong tahun 2008. Kenapa pergantian tahun begitu istimewa bagi banyak orang padahal bagiku hanya sebuah simbol pertukaran waktu yang tak lebih dari sekedar penamaan, penanda waktu belaka. Tak semestinya ada pesta karena pesta adalah seremonial atas sebuah kemenangan lalu benarkah pergantian tahun adalah kemenangan? Apakah tahun yang berlalu telah berhasil kita taklukkan dengan kesuksesan gemilang dan perubahan diri ke arah yang lebih baik?

Terlepas dari semua itu, masing-masing diri berhak untuk melakukan apa saja atas dasar HAM. Aku lebih memilih untuk merefleksi diri atas apa yang terjadi dalam perjalan hidupku setahun terakhir, di tahun 2007.

Jika sebagian orang berpesta menyambut tahun 2008, maka aku justru sebaliknya karena berbagai peristiwa di tahun 2007 cukup membuatku tertunduk lesu. Aku tidak menjadi lebih baik tetapi stagnan kalau tidak ingin dikatakan mengalami kemunduran. Tahun 2007 kujalani dengan musibah dan kesengsaraan yang akan membekas sepanjang hidupku.

Peristiwa terburuk aku alami tanggal 16 September 2007 (sehari sebelum aku ulang tahun), dimana aku harus kehilangan beberapa ruas jari kiri akibat kecelakaan yang membuat jariku harus aku ikhlaskan untuk diamputasi dan sebagian lainnya tidak kembali normal. Menjadikan aku harus menyandang gelar cacat seumur hidup. Kecelakaan yang tak semestinya terjadi akibat ulah dan campur tangan manusia yang mungkin tak pantas dianugerahi pengorbanan sebesar itu. Tetapi aku sadar bahwa inilah takdir yang harus kujalani, meski pahit namun harus tetap aku telan sebagai sebuah konsekuensi pilihan hidup.

Hari-hari setelah kecelakaan itu mungkin adalah hari-hari yang paling menyiksa dan menyesakkan. Luka bekas operasinya belum sembuh hingga kini yang membuatku tidak lancar menjalankan aktivitas terutama jika berinteraksi dengan keyboard. Ternyata derita itu belum cukup karena kekejaman terus mendatangiku yang kadang membuat aku menggerutu dan ingin melumat habis pemerannya tapi aku tak mampu melakukannya. Harga diri yang selama ini kupegang teguh dan kujaga telah terinjak tercampakkan ke dasar yang paling hina. Harga diriku telah tergadai yang entah dengan apa menebusnya sehingga aku bisa memilikinya kembali. Kedamaian telah menjadi milik orang lain yang tak mampu aku temukan lagi, merebut malam-malamku yang seharusnya indah dengan mimpi-mimpi, mengembalikan tubuhku menjadi tengkorak berjalan. Aku sebut itu kekejaman dan kebodohanku tak bisa lepas dan keluar dari masalah itu.

Aku akan menyeberang ke tahun 2008 dengan segudang persoalan yang tidak mampu aku tuntaskan di tahun 2007. Walau dengan sisa kekuatan yang ada aku akan berusaha bangkit berdiri dan belajar berjalan tegak kembali, memunguti harga diri yang terberai yang mungkin tak akan utuh lagi atau aku harus menebusnya dengan harga yang sangat mahal agar semuanya kembali.

Selamat datang tahun 2008. Coba perlihatkan lagi kecongkakanmu sebagai bagian dari waktu yang terlalu sombong seakan penentu segalanya. Waktu, andai kau tau betapa aku dendam padamu...!!!, atas apa yang telah kau buktikan dalam perjalanan hidupku.

Selamat Ulang Tahun yang pertama Blacky kekasihku. Kau juga tidak lebih baik karena kaulah yang membuatku cacat seperti ini, tetapi minimal kamu mampu sedikit mengerti keinginanku.

Sunday, December 16, 2007

Selamat Hari Raya Idul Adha 1428 H

Syarief ToKonjo selaku admin blog tokonjo mengucapkan selamat Hari Raya Idul Adha 1428 H tahun 2007 M. Meski saya belum jelas kapan pelaksanaannya, ataukah telah ditetapkan oleh pemerintah tetapi belum saya ketahui, entahlah. Memang akhir-akhir ini malas nonton berita atau baca koran. Alasannya SIBUK.
Mungkin ucapan ini terlalu cepat, ini semua karena besok saya mau pulang ke kampung halaman berlebaran dengan keluarga. Jaraknya cukup dekat, hanya sekitar 500 km. Berhubung karena kampung halamanku pedalaman maka otomatis tidak ada internet kecuali pake telpon rumah tetapi itupun tidak mungkin karena saya belum punya laptop atau PC di rumah.
Untuk itu, saya memohon izin kepada pengunjung blog ini dari manapun asalnya, terutama kepada teman-teman blogger yang sering berkunjung ke blog ini. Mungkin saya akan cuti ngeblog beberapa minggu hingga menjelang tahun baru karena rencana tahun 2008 akan saya jalani di kota Parepare ini. Ada banyak agenda untuk hari itu.
Untuk blogku tersayang, selamat tinggal untuk sementara waktu, aku pasti akan merindukanmu seperti biasa yang karena kerinduan itu aku setiap saat mengunjungimu. Terasa ada yang kurang jika komputer ini aktif tetapi blog ini tidak terpampang di layar dengan suguhan mozilla firefox.
Sekali lagi, Selamat Hari Raya Idul Adha 1428 H. Wassalam

Wednesday, August 15, 2007

Selamat Tinggal Blog Ku.....

Untuk semua blog ku, kuucapkan Selamat Tinggal. Mungkin untuk sementara... atau mungkin untuk selama-lamanya. Aku tidak punya alasan yang jelas untuk semua itu. Terlalu banyak keindahan, kekacauan dan segala rasa telah lahir sebagai akibat dari blog ini.
Aku masih ingat, memulai blog bukan atas keinginanku tapi sebuah kewajiban dari kantor tempatku bekerja. Dan lahirlah blog ini. Aku sama sekali tidak faham dengan blog, dan mungkin karena itu pula pada saat itu aku hanya membuat seadanya.
keinginan untuk mengelola blog kembali hadir sekitar setahun yang lalu dan aku belajar dan belajar sehingga terciptalah blog seperti yang sekarang. Aku sudah mulai faham dengan dunia ini dan kemudian lahirlah beberapa blog yang lain.
Aku memoles setiap titik-titikmu untuk menampilkan keindahan padamu. Mataku seringkali memerah hanya untuk memperhatikan setiap bagianmu agar pas dan semakin indah. Kuhabiskan waktuku untuk membuatmu seperti sekarang, tak terhitung batangan rokok yang menemaniku mencumbumu. Semua untuk satu harapan, membuatmu lebih indah untuk memuaskanku.
Tetapi kini, aku putuskan untuk meninggalkan semuanya. Mungkin aku lelah, mungkin aku marah, mungkin aku memang tidak ingin lagi. Aku putus asa, itu mungkin alasan yang paling pantas.
Selamat tinggal blog ku, entah nanti aku akan kembali untukmu tetapi tidak untuk hari ini. Kerja kerasku selama ini, buah pikiranku, kehausanku untuk mencari demi memperbaikimu telah kulakukan. Aku jenuh dan apa yang kau berikan padaku...??? Kekecewaan. Aku kecewa padamu yang sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa untukku. Aku ikhlaskan tidurku yang telah kau renggut, istirahatku yang kau rampas, keharmonisanku yang kau ganggu dan hasratku yang kau patahkan. Sudahlah.
Selamat Tinggal....!!!!

Saturday, June 30, 2007

Akhirnya Pulang Kampung

Setelah penantian cukup panjang berkutat dengan pekerjaan di SMP Negeri 5 Parepare dan Parepare Cyber Education Center (PCEC), akhirnya hari ini aku akan menengok orang tuaku di kampung halaman. Terakhir kali pulang ke Herlang, Butta Panrita Lopi Bulukumba pada bulan Januari 2007. Kalo dihitung-hitung sekitar 6 bulan. Ini pertama kali meninggalkan orang tua selama ini. Waktu masih aktif kuliah, paling lama 3 bulan sekali pasti pulang nengok keluarga.
Setahun berada di kota Parepare ini cukup melelahkan. Berkutat dengan pekerjaan yang tiada habisnya. Semuanya untuk mengejar ”setoran”. Tapi aku tidak ingin dianggap pemburu materi oleh orang tuaku. Mereka tidak pernah menyebutku begitu, namun aku merasa seperti itulah aku adanya saat ini. Hanya mementingkan kerjaan, bahkan pada saat salah satu anggota keluarga meninggal dunia, aku tidak pulang dengan alasan kerjaan.
Sebelum semuanya terlambat, aku ingin menepis semua. Materi sangat penting tapi jangan sampai melupakan keluarga. Susah payah membesarkan aku, menyekolahkan, bahkan berjuang setengah mati untuk membuat aku jadi sarjana. Namun setelah semuanya aku gapai, aku jarang menjenguk mereka. Durhaka. Walau aku tau pasti bahwa mereka tak akan pernah meminta balasan atas semua yang mereka lakukan, dan bagaimana pun inginnya aku membalas tak akan mampu melunasi semuanya. Aku hanya ingin mereka bahagia, tersenyum menyambut kedatanganku. Moment paling mengesankan adalah ketika aku datang, ibu pasti meluk aku dan bilang ”anakku pulang”.
Jarak dari Parepare ke Herlang Kab. Bulukumba sekitar 450 km. Kalo mengendarai blacky perkirakan sampai dalam waktu 7 jam. Tapi rencananya singgah di Makassar dulu, besoknya baru lanjut ke Bulukumba.
Ibu, aku datang. Semoga tidak ada halangan dalam perjalanan.

Monday, May 28, 2007

Selamat Jalan Paman, Selamat Jalan Sahabat

Setiap yang hidup pasti akan mati, setiap yang ada akan kembali ke ketiadaan. Takdir Tuhan tak dapat dilawan, Tuhan dapat mengambil milik-Nya kapan saja, tetapi saya berkeyakinan bahwa Tuhan tidak “bermain dadu” dalam menciptakan dunia termasuk tidak “bermain dadu” dalam mengambil hidup hamba-Nya, semuanya terencana entah dengan cara apa. Einstein (fisikawan terbaik dunia sepanjang masa) yang seorang Yahudi jauh sebelum hari ini telah menyadari hal itu.
Paman yang kusayang dan menyayangi aku dan keluargaku pada hari Senin tanggal 28 Mei 2007 pukul 20.00 Wita harus memenuhi panggilan Ilahi yang menandai perjalanan singkatnya di dunia fana ini di usia sekitar 30-an tahun. Tak seharusnya aku meratap karena itu sebuah keharusan oleh-Nya, tetapi tetap saja hatiku tersayat dengan kenyataan ini. “Pamanku, Sahabatku” telah pergi, terlalu banyak kenangan yang kau torehkan untukku dan keluarga kita. Aku tidak meratap karena kepergianmu, tetapi kenangan masa hidupmu terpampang jelas dalam benakku.
Kau menemani masa kecilku hanya sekejap, lalu kau pergi seperti lenyap di telan bumi dan kembali hadir pada saat usiaku telah menginjak dewasa lalu sekarang kau harus pergi lagi dan tak mungkin kembali.
=====
Dia menemani masa kecilku walau hanya sesaat dan saat itu Dia sudah SD. Kadang di sore hari Dia mengajak aku bersamanya mengembala sapi, mencari buah kenari atau sekali-kali dia memanjat pohonnya dan tugasku memunguti buahnya. Aku masih kanak-kanak ketika Dia meninggalkan kampung halaman “Herlang” ke negeri Jiran Malaysia. Sejak itu tidak pernah ada kabar darinya, dia pergi bagaikan peluru yang tak ingat kembali, mungkin sekitar 17 tahun.

Saat kuliahku menginjak semester 6, tiba-tiba dia pulang dengan membawa seorang istri (perempuan Jawa). Seakan tak percaya bahwa dia masih ingat pulang setelah sekian lama. Pada saat itu Ayahandanya baru saja meninggal dunia dan tinggal Bundanya seorang. Aku tidak menyangka bahwa dia mengenaliku dan memelukku erat padahal dia pergi saat aku masih balita. Tidak ada yang berubah darinya, dia masih memanjakanku seakan masih menganggapku seperti saat dia tinggalkan dulu. Bagiku, Dia bukan hanya sekedar Paman tapi lebih sebagai seorang sahabat yang menghilangkan batas kewibawaan antara paman dan keponakan.

Untuk menghidupi istri dan ibundanya, Dia beli sepeda motor yang digunakannya untuk menarik ojek. Mungkin karena itulah (dengan tidak mengesampingkan kekuasaan Ilahi) ajal menjemputnya. Bulan September 2006 lalu dia harus diopname di RSU Sultan Daeng Raja Bulukumba karena lever, imbas dari hepatitis yang dideritanya, namun Kuasa Tuhan masih menganugerahinya kesehatan. Setelah beristirahat total selama 3 bulan, dia kembali narik ojek untuk menghidupi keluarga. Dan selama Dia narik ojek, adikku satu-satunya yang juga sangat disayanginya tidak perlu susah payah untuk ke sekolah karena diantar jemput olehnya plus uang jajan setiap hari.
=====
Dan hari ini Dia harus menutup mata untuk selama-lamanya setelah sebelumnya terbaring sakit dengan penyakit yang sama, meninggalkan istrinya, ibundanya dan kami semua. Yang aku sesali karena aku tidak bisa di sampingnya pada detik-detik terakhir hidupnya, tidak bisa mengantar jenazahnya, dan tidak bisa larut dalam khidmat ta’ziahnya. Aku berada jauh sekitar 400 km darinya dan harus menuntaskan Prajabatan. Segenap cinta dan kasih sayang yang Kau berikan akan kami kenang, dan kami akan senantiasa mendoakanmu.

Selamat jalan Paman…!!!. Aku tak bisa temukan kata yang terbaik untuk melepas kepergianmu.

Persembahanku untuk Paman Rappelis, semoga arwahmu tenang di sisi-Nya.

Monday, May 14, 2007

Prajab Hari Ke-1, Dewi Fortuna Selingkuh

Jam 06.00 pagi ha-pe ku bunyi, dengan mata yang masih enggan terbuka kulihat Shanty memanggil. Aku tau tujuannya, membangunkan aku karena sebelumnya dia sudah janji. Rencananya mau dibangunkan jam 05.30 tapi aku mengubah jadwal pada jam 04.30 lewat sms karena sampai jam itu aku belum bisa tidur. Isi sms nya meminta Shanty bangunkan jam 06.00 saja, bukan jam 05.30.

Aku sulit tidur karena mungkin sebelumnya minum kopi (Iqa bilang: pikiranku bloon karena minum kopi). Aku berusaha pejamkan mata tapi kelengkapanku untuk pembukaan Prajabatan terus menghantui. Mungkinkah toko itu cepat buka? Aku kehilangan kesadaran sekitar jam 5 seiring dengan lantunan ayat suci dari masjid-masjid di sekitaran tempat tinggalku dan baru tersadar jam 06.00 pagi oleh panggilan Shanty itu. Makasih Shan, kamu memang adik yang baik.
Aku bergegas bangun, tidak seperti biasanya yang malas-malasan. Aku tidak langsung mandi tapi panasin si Blacky dulu plus mengelusnya dengan kain halus agar kinclong. Setelah itu baru mandi, pasang setelan KORPRI dan tidak lupa tenggerkan kopiah di kepala yang aku beli di Senggol, nampang depan cermin, wah “kebapakan” banget. Menu wajib mandi pagi, bersin-bersin hebat tidak terlewatkan karena penyakit pholip.

Aku segera berangkat. Karena Hotel Graha di pinggiran kota, diperjalanan aku tak sedikit berpapasan dengan orang dengan setelan sama yang artinya peserta prajabatan juga yang sudah menuju ke tempat kegiatan sementara aku malah memacu si Blacky masuk kota. Mungkin mereka berfikir aku salah informasi tempat, tetapi aku tidak ambil pusing. Si Blacky terus melaju lewat depan Toko 75, wah belum buka. Alamat kacau nih. Aku terus ke Toko Harmonis, kejadian sama aku temui. Aku terancam gak dapat papan nama dan lencana KORPRI kalau begini. Aku berpikir beli pulsa dulu karena di depan toko itu ada nomor telpon, aku mau hubungi pemiliknya. Tapi saat aku mutar ke samping toko itu, ada perempuan berdiri depan pintu samping yang sepertinya mau masuk ke toko itu sambil meneriaki penghuni di dalamnya. Aku bertanya “ada orang gak di dalam?”, dia jawab “ada”. Aku ikutan menunggu disitu. Tak lama orangnya keluar, setelah utarakan maksud, dia minta notanya. Aku utak atik dompet koq tidak ada, tapi aku berpikir aku siap bayar ulang yang penting barangnya ada. Tetapi ternyata notanya ada tapi terselip diantara lembaran-lembaran uang dan akhirnya papan nama itu ada di tanganku, dan untungnya disitu juga dijual lencana KORPRI. Aku tersenyum lega. Dewi Fortuna ternyata masih senang berselingkuh denganku. Aku kemudian memutar arah ke tempat kegiatan dengan santai karena waktunya masih banyak.

Di hotel Graha sudah banyak yang datang, termasuk teman-teman se unit kerjaku. Kami berbincang lepas dan tak lama dipanggil masuk ruangan untuk geladi bersih (apa yang bersih, kotor aja tidak ikut…???). Tetapi relatif mudah saja. Yang paling mengesankan adalah pada saat menyanyikan lagu Indonesia Raya. Aku menyanyi dengan lantang dan entah mengapa seperti itu bahkan aku merasa bulu tubuhku merinding. Geladi bersih selesai dan tinggal menunggu kedatangan Walikota Parepare M. Zain Katoe. Tidak lama beliau datang dengan senyuman khasnya, dan pembukaan dilangsungkan dengan khidmat. Dan kembali bulu tubuhku merinding pada saat menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan penuh semangat. Mungkin karena terlalu lama aku tidak menyanyikannya. Setelah pembukaan, masuklah materi pengantar Diklat Prajabatan yang intinya tentang pelaksanaan Prajabatan Gol. III. Itu berlangsung sampai sore sekitar jam 15.45. Berhubung materi terakhir adalah Ceramah Umum dari Walikota dan beliau tidak bisa hadir, peserta dipulangkan.

Sungguh hari pertama yang melelahkan, diawali dengan deg-degan dan berakhir pada rasa ngantuk hebat di ruangan. Panitia mengingatkan “tidak boleh tidur kecuali tertidur”. Aku yakin sanggup menjalani Prajabatan ini selama dua minggu ke depan. “Ayo Syarief, semangat jangan lemes”, itu sms dari Iqa (Rifqa Nukman: Karyawan GraiHalo Telkomsel Bulukumba). Makasih Iqa, makasih Shanty, you are my best friend (jangan diketawai kalau English nya salah ya…)

Sunday, May 13, 2007

Prajabatan Dinanti, Kacau Balau

Setelah penantian cukup panjang, Prajabatan untuk Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Kota Parepare akhirnya digelar juga. CPNS 2006 ditetapkan sejak tanggal 1 April 2006 dan mulai mengabdi 1 Juni 2006. Hampir setahun, akhirnya prajabatan dinanti datang juga. Padahal semua daerah lingkup Sulawesi Selatan telah menyelenggarakan prajabatan untuk CPNS mereka bahkan kabupaten Bulukumba menyelenggarakannya pada bulan November 2006.
Prajabatan mulai diselenggarakan besok (14 Mei 2007) sampai dua minggu ke depan berlangsung di Hotel Graha Kota Parepare. Seminggu sebelumnya aku telah melakukan persiapan untuk mengikuti prajabatan ini termasuk pengurusan berkas, papan nama, pakaian KORPRI, peci hitam dan belakangan saya ketahui harus memakai lencana KORPRI. Namun di luar dugaan menjelang detik-detik akhir pelaksanaan aku harus kalang kabut untuk melengkapi persiapan-persiapan yang dibutuhkan.
Sejak hari Senin yang lalu aku sudah memesan papan nama di Toko Harmonis dan dijanji akan diambil hari Jumat tetapi entah mengapa sampai waktunya tiba belum jadi juga. Aku dijanji ambil hari Sabtu. Hari Sabtu aku kembali ke toko itu tetapi lagi-lagi belum selesai. Aku jadi naik pitam kepada pemilik tokonya. Dengan nada membujuk dia mengatakan kembali lagi besok (maksudnya Minggu) dan toko itu buka sampai jam sembilan malam. Dengan hati yang mendongkol aku tinggalkan toko itu yang tersalurkan lewat si Blacky yang kupacu kencang-kencang dengan suara knalpotnya yang memang di atas rata-rata karena habis diganti dengan knalpot racing.
Hari minggu adalah persiapan akhir, semua peserta harus datang untuk geladi kotor di Hotel Graha sekaligus pembagian perlengkapan. Tetapi karena penyakit “malas” datang lagi makanya aku tidak ikut karena aku masih menikmati hari tidur nasional. Jam 8.30 malam aku telpon teman untuk menanyakan hal-hal yang akan dilakukan besok. Aku hubungi Pak Sofyan (guru geografi), tidak diangkat. Aku hubungi Pak Mansur (guru Bahasa Indonesia), tidak diangkat karena ternyata mereka sedang di kendaraan menuju Senggol untuk refreshing. Aku teringat ibu Rahmiati (guru Geografi), nah diangkat. Beliau kemudian menjelaskan semua kelengkapannya. Pas beliau ngomong papan nama, seketika aku histeris karena ternyata aku belum ambil papan nama itu di Toko Harmonis. Cepat-cepat aku tutup telpon kemudian memacu si Blacky dengan kecepatan tinggi menuju toko itu karena sebentar lagi jam sembilan malam. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih karena toko itu sudah tutup padahal ini belum jam sembilan, mana besok harus masuk jam 07.30. Aku hanya bisa berharap toko itu cepat buka besok. Aku kemudian kembali ke base, nelpon kembali ke Pak Sofyan, diangkat. Aku kembali tanya-tanya, dia bilang harus ada lencana KORPRI yang adanya hanya di toko 75. Aku kembali pacu si Blacky sekencang-kencangnya ke toko itu yang lumayan jauh tapi lebih dekat dibanding toko Harmonis. Kembali aku harus gigit jari karena toko itu sudah tutup juga.
Ya Tuhan, apa yang terjadi denganku. Kenapa aku jadi pikun begini. Apa yang akan menimpaku besok ya di tempat prajabatan. Bapak/Ibu panitia begini bla...bla...bla... ah basi.... Skenario pertama aku harus pagi-pagi ke kedua toko itu dan berharap kedua toko itu cepat buka. Jika skenario pertama gagal maka persiapkan skenario kedua, harus memasang wajah memelas di depan panitia dan alasannya harus sudah dipersiapkan malam ini.
Peterpan Band bilang “apa yang terjadi, terjadilah...”. Aku pasrah dengan apa yang akan terjadi besok. Semoga Dewi Fortuna masih ingin berselingkuh denganku.

Wednesday, May 9, 2007

Masa Kecil, Sengsara...???

Malam ini sepulang dari kantor aku berkunjung ke rumah teman kantorku (Adhi), rencana mau memoles si Blacky (motor kesayangan), karena kebetulan dia punya pengalaman untuk itu. Sesampai di rumahnya ternyata mati lampu. Gelap gulita.
Tidak lama, Bapak temanku itu keluar membawa sebuah pelita kecil yang menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakar. Kemudian ia kembali masuk ke dalam dan temanku masuk kamarnya entah ngapain. Aku tinggal duduk sendiri di ruang tamu memandangi pelita kecil itu sekian lama.
Entah mengapa, memandangi pelita kecil itu membawa anganku kembali ke masa kecilku. Dan sesampainya di kantor aku tertarik untuk menulis kisah itu. Masa yang tak terlupakan yang kulakoni di Butta Panrita Lopi Bulukumba yang berjarak sekitar 500 km dari tempatku saat ini. Masa kecilku di temani oleh temaram pelita kecil karena aku tinggal di sebuah desa yang sangat terpencil. Listrik saat itu belum masuk (saat ini sudah ada) dan jalannya masih dari tanah yang belum terlapisi aspal sehingga kalau hujan, tak satupun mobil angkutan yang berani melewatinya, itu pun jumlahnya hanya beberapa. Desa itu bernama Desa Tibona Kecamatan Bulukumpa Kabupaten Bulukumba. Padahal komoditi hasil alam di tempat ini sangat menjanjikan untuk Pendapatan Asli Daerah (PAD). Tetapi hingga kini perkampungan itu masih terlupakan oleh pemerintah atau bahkan dianggap tidak ada dalam peta. Saat aku masih tinggal di tempat itu, babi hutan masih merupakan pemandangan yang tak asing dijumpai setiap harinya atau bahkan boleh dibilang menjadi teman bermain.
Aku tidak terlahir di tempat itu, aku terlahir di kecamatan lain yaitu Kecamatan Herlang di sebuah gubuk yang tak layak disebut rumah di tengah kebun yang dinaungi pohon mangga “macan” yang sangat besar. Kondisinya tidak kalah menyedihkan. Karena letaknya di kebun sehingga rumahku tidak bertetangga dengan siapa pun. Gubuk reot itu berdiri sendiri. Saat usiaku menginjak 4 tahun, Tuhan semakin menyengsarakan keluargaku dengan merampas gubuk kecil itu dengan lalapan api. Sejak itulah kedua orang tuaku yang hanya memiliki aku sebagai harta satu-satunya terlunta-lunta dan harus berjuang untuk memperoleh tempat tinggal yang baru.
Orang tuaku sempat mencoba untuk tinggal di Kawasan Adat Ammatoa Kajang namun hanya bertahan sekitar 3 bulan karena kondisi di tempat itu tidak sesuai dengan keyakinan orang tuaku. Orang di kawasan adat Kajang menganggap bahwa shalat tidak perlu terikat dengan gerakan-gerakan tapi terkenal dengan istilah “je’ne tammaluka, sambayang tammattappu’” ---wudhu yang tidak pernah batal, shalat yang tidak pernah terputus atau terhenti---. Menurut anggapan mereka, tidak perlu melakukan ritual gerakan shalat intinya adalah zikir (mengingat) Allah dalam setiap aktivitas dan cukup sekali wudhu maka itu tidak akan batal sampai kapan pun. Walau sebenarnya mereka tidak mengintervensi orang tuaku dalam hal keyakinan tetapi pernah sekali Ayahku dipaksa minum “tuak: minuman keras dari aren” tetapi Ayahku menolak. Sejak saat itu kehidupan keluargaku tidak pernah tentram. Akhirnya di “subuh buta” dengan digendong Ibuku, kami meninggalkan tempat itu.
Tujuan kami adalah Desa Tibona sesuai dengan cerita awal tadi. Rumah di tempat ini masih sangat jarang dan jaraknya saling berjauhan sehingga praktis aku tidak punya teman bermain. Awal-awal aku di tempat ini dikaruniai adik tetapi umurnya hanya sekitar satu tahun dan aku harus sendiri lagi. Di tempat inilah aku menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar di SD 68 Tibona. Setiap hari berangkat sekolah menyeberangi sungai dan hutan kopi yang ketika datang musim berbunga baunya sangat harum tetapi bisa menyebabkan flu. Sesekali bertemu kawanan babi hutan, tetapi semua seakan menjadi teman. Hanya saat kelas 1 aku sering diantar Bapak, namun setelah itu aku sudah berani berjalan sendiri. Awal masuk sekolah sampai sekitar kelas 3 menjadi hari tersulit karena aku belum bisa bahasa Bugis (bahasa di tempat ini) karena aku terlahir di komunitas bahasa konjo. Tetapi di sekolah aku tergolong cerdas karena selalu rangking I sejak kelas II. Aku hanya mendapatkan keceriaan ketika di sekolah dengan teman-teman dan harus sendiri lagi kalau sudah kembali ke rumah. Tetapi aku bisa belajar dengan tenang ditemani pelita kecil yang ketika bangun pagi harus bersihkan hidung karena pelita itu menyisakan kerak di sana. Orang tuaku hanyalah petani serabutan. Mengelola lahan orang lain dan memperoleh bagian setengah dari lahan yang dikelola. Sangat memprihatinkan.
Saat aku duduk di kelas VI, aku kembali dikaruniai adik perempuan yang saat ini sudah SMP dan sebentar lagi masuk SMA. Tetapi adikku tidak terlalu merasakan pahitnya hidup seperti yang kurasakan kalaupun dia merasakan maka dia belum mampu mengingat karena saat itu dia masih sangat kecil dan aku berdoa semoga itu tidak akan pernah adikku rasakan.
Di desa ini, terdapat sebuah sekolah SMP, saat aku lulus SD orang tuaku menganjurkan untuk sekolah di situ. Tetapi saat itu pikiranku sudah mulai terbuka dan menatap jauh ke depan. Aku berpikir tidak akan bisa maju kalau terus berada di tempat ini, apalagi dengan kualitas SMP itu yang tidak terlalu bagus. Maka aku meminta kepada orang tuaku untuk melanjutkan SMP di Kecamatan Herlang (tanah kelahiranku) yang lebih maju dibanding kediamanku saat itu dan menumpang di rumah tanteku. Orang tuaku mengizinkan tetapi aku harus berangkat sendiri, karena adikku masih kecil dan tidak bisa ditinggal. Jarak dari Tibona ke Herlang sekitar 50 km yang harus ditempuh dengan dua kali pindah kendaraan umum. Aku memberanikan diri demi masa depan, dan itulah pertama kalinya aku naik kendaraan umum sendiri.
Akhirnya aku sekolah di SMP Negeri Batuasang (sekarang SMP Negeri 2 Herlang), dan tidak lama setelah itu orang tuaku menyusul dan meninggalkan Desa Tibona tetapi kebun kami masih ada di sana yang setiap tahun menghasilkan buah-buahan yang menarik untuk dikunjungi, bahkan kadang rindu untuk kembali ke sana. Tetapi sejak SMA bahkan kuliah, aku sangat jarang berkunjung ke sana apalagi sekarang aku semakin jauh. Hanya Bapak yang sesekali menjenguk kebun itu. Tetapi orang tuaku tidak ingin menjualnya entah dengan alasan apa.
Sungguh masa kecil yang sengsara. Tapi Tuhan memperlihatkan keadilan dengan sedikit memperbaiki taraf hidup keluargaku termasuk berhasil membuat aku menjadi sarjana walau harus meniti karrier jauh dari mereka. Adakah orang tua yang sebaik itu?

***Terima kasih Adhi, kau membangkitkan keinginanku untuk menulis ini di blog tersayang***

Wednesday, April 25, 2007

Pembina Upacara

Sudah tradisi di SMP Negeri 5 Parepare bahwa semua guru dapat giliran menjadi Pembina Upacara tak terkecuali aku yang belum cukup setahun mengabdi. Nah, tanggal 23 April 2007 kena dech giliran aku.
Sebenarnya tidak ada persiapan khusus, tapi aku paling alergi bangun pagi. Sekedar info ***selama ini jarang ikut upacara*** karena kebanyakan telat bangun pagi. Aku takutnya terlambat bangun, wah gawat bisa diomelin oleh semua guru di sekolah, kepala sekolah, untung kalo siswanya gak ikut ngomel, atau sampai meja dan kursinya ikut ngoceh.
Makanya segala tips dan cara dilakukan termasuk melakukan ritual (ritual tuh, tidur cepat. Ha? Hubungannya dimana?). Tapi dasar kebiasaan begadang, udah tidur sekitar jam sembilan malam, ehhhh terbangun lagi jam sebelas. Wah, udah was2 pasti telat bangun lagi. Mutar otak, pasang alarm di ha-pe? Udah. Tapi biasanya gak mempan karena suka gak sadar bangun cuma matiin aja. Ah, hubungi Shanty suruh dia telepon jam lima tiga puluh pagi tuk bangunin karena dia pasti cepat bangun tuk berangkat sekolah. Sekitar jam dua tidur lagi dengan terlebih dahulu membuat konsep dalam otak apa yang ingin disampaikan(pinjam istilah nenek Einstein: eksperiman dalam fikiran, he he he). Selamat tidur Syarief.
=====
Jam lima tiga puluh aku dengar ha-pe ku bunyi. Dengan mata masih enggan terbuka aku menyapa “halo”, “halo kak, bangun katanya mau bangun cepat” kata suara merdu diujung telpon. “mmm, iya. Makasih”. Sesudah basa basi sebentar telepon pun ditutup. Aku lirik jam di ha-pe, ah masih sangat pagi… masih ada waktu tidur sebentar lagi. Lanjut lagi tidurnya (dasar pemalas). Tidak lama tersentak bangun, wah udah lewat jam enam. Buru-buru bangun tapi gak bisa langsung mandi karena dingin sekali. Jadinya duduk2 dulu lalu panasin motor. Mau gak mau harus mandi, meski setelah itu bersin2 hebat ***maklum menderita pholip***. Trus masang pakaian dinas Hansip, ngeceng depan cermin, semprot sana semprot sini, udah siap. Di meja makan blom ada sarapan karena pengantarnya blom datang. Ya sudah, ambil tas berisi buku2 yang belum aku baca semua. Pacu si “Blacky“ ke sekolah yang berjarak sekitar lima kilometer, langsung naik parkiran yang jalan naiknya hampir empat puluh lima derajat. Blum banyak guru yang datang karena di parkiran masih banyak tempat kosong ***hal yang tidak biasa kujumpai karena biasanya aku datang telat dan susah dapat tempat kosong***.
Pak Yuddin (guru seni) langsung nyapa tapi sapaannya aneh “mimpi apa semalam, barusan datangnya pagi“. Aku hanya tersenyum. Aku terus mendaki menuju kantor karena memang sekolah teksturnya berbukit. Sapaan sama terjadi di sana, bahkan ada guru senior yang cubit dirinya sendiri “apa saya mimpi liat Pak Syarief datang pagi”. Duuuhhh segitu malaskah aku selama ini. Sudah saatnya introspeksi diri, karena selama ini aku memang cuek untuk urusan yang tidak berhubungan dengan pembelajaran di kelas, apa lagi dengan urusan bergosip ria, bahkan saat SMP Negeri 5 Parepare dililit masalah internal dan terekspose ke media, aku tetap cuek-cuek aja.
=====
Jam tujuh nol nol, upacara dimulai. Salah seorang siswa datang melapor sebagai bagian seremonial “Bapak selaku Pembina upacara diperkenankan memasuki lapangan upacara”. Dengan langkah tegap yang dibuat-buat, melangkah menuju mimbar di tengah lapangan. Lho... lho... koq aku ngerasa lutut kiriku kaku. Wah, aku grogi. Gawat. Padahal aku sering hadapi tekanan lebih dari ini. Aku mundur selangkah, tarik nafas dalam2. Akhirnya jadi rileks. Semua teratasi. Tiba saatnya amanah pembina upacara, yang paling dinanti dan paling mendebarkan karena harus ngomong layaknya orang tua yang sok bijaksana dan menjurus ke sok tau dengan guru-guru senior dan kepala sekolah berdiri di belakang. Dengan segala kemampuan aku berusaha mengaplikasikan teori retorika ***materi yang sering kubawakan di acara kemahasiswaan dulu***. Aku awali dengan bicara pengalaman bahwa sekitar enam tahun silam statusku sama seperti mereka sebagai siswa dan berdiri sebagai peserta upacara dan sekarang sudah lain kondisinya. Istimewanya karena hari Senin (23/04/07) sehari menjelang pelaksanaan Ujian Nasional tingkat SMP yang dilaksanakan serentak tanggal 24 April 2007 di seluruh Indonesia. Ya jadinya wajib beri motivasi kepada kelas IX dengan mengulas standar kelulusan yang sulit dengan mengambil contoh Kepala Sekolah di Ngawi yang nekat curi soal untuk siswanya. Aku juga mengulas singkat tentang etika yang sudah sangat berbeda ketika saya sekolah dulu kaitannya dengan tayangan TV yang sangat bepengaruh. Oemar Bakri yang terinjak tak lepas dari ulasanku dengan mengambil contoh guru di Takalar yang harus meringkuk di penjara dan beberapa kasus siswa yang mempolisikan gurunya hanya karena persoalan sepele seakan siswa telah menjadi dewa yang tidak boleh disentuh. Aku tidak banyak basa basi, prinsipku “padat dan semoga aja jelas“.
=====
Setelah upacara selesai, aku disambut guru-guru senior dengan jabat tangan. Aku heran, lho ada apa ini?. Ternyata mereka ngasi selamat karena katanya salut dengan perform dan amanah yang menyentuh. Karena setelah upacara langsung diadakan rapat untuk persiapan Ujian Nasional, kalimat2 ku dalam upacara masih dibahas di rapat tersebut bahkan kepala sekolah memberi nilai plus sebagai guru muda. Wah kayak Cristiano Ronaldo (gelandang MU) saja yang memperoleh penghargaan pemain muda terbaik di premiership karena kebetulan sebelum aku, guru muda yang lain telah tampil. Dan guru-guru senior bilang aku berhak menyandang gelar the best.
=====
Awal yang baik. Bagiku ini belum apa-apa karena aku yakin masih bisa melakukan banyak hal yang berarti untuk sekolah dan tentunya untuk diriku sendiri. Aku sering berkelakar dengan teman2 guru seusiaku “satu hal yang membuat pikiranku terganggu sebelum tidur Gimana caranya memajukan pendidikan Indonesia dan mencerdaskan anak bangsa”. Dan setelah itu kami tertawa seakan tanpa beban. Memang kedengaran terlalu ideal padahal semua itu adalah tanggung jawab kami selaku Oemar Bakri.