Showing posts with label Sains. Show all posts
Showing posts with label Sains. Show all posts

Saturday, January 12, 2008

Albert Einstein Hidup Kembali?


Tekan tombol menu untuk melihat video Einstein yang lain. Klik yang anda inginkan kemudian nantikan beberapa saat untuk melihat tampilan video, mungkin agak lama tergantung kecepatan akses internet anda. Mari mengenal Ilmuan terbesar sepanjang masa...!!!

Planet Baru Ditemukan



Tim astronom di Heidelberg, Jerman menemukan planet baru yang masih berada dalam piringan cakram debu pada sebuah bintang yang baru lahir.






Ini adalah penemuan pertama planet dalam kondisi baru terbentuk dan merupakan penemuan penting untuk memahami proses pembentukan planet. Planet itu diyakini berkembang di tengah piringan debu dan gas, yang merupakan tempat kelahiran planet tersebut, yang mengelilingi bintang induknya.

Johny Setiawan, astronom dari Max-Planck Institute for Astronomy (MPIA) yang memimpin program survei pengamatan, dan rekan-rekannya menemukan planet muda di luar tata surya itu yang memiliki massa 10 kali lebih besar dari massa Jupiter. Planet yang baru terbentuk itu mengelilingi TW Hydrae, bintang muda yang baru berusia antara delapan hingga 10 juta tahun. Planet itu mengelilingi bintang tersebut dalam waktu hanya 3,56 hari dengan jarak orbit sekitar 6 juta kilometer, sekitar 4% dari jarak bumi ke Matahari.

Para peneliti mengatakan kepada Nature bahwa studi ini memperlihatkan bahwa pembentukan planet bisa terjadi dengan cepat sebelum bintang induk muda yang juga baru terbentuk itu memiliki waktu untuk membersihkan sisa-sisa pembentukan tata surya. "Ini memperlihatkan bahwa planet-planet bisa terbentuk dalam waktu 10 juta tahun, sebelum cakram debu dan gas dibersihkan oleh radiasi dan angin di angkasa luar," tulis tim ini.

Pemantauan dilakukan dengan menggunakan teleskop Max-Planck-Gesellschaft berukuran 2,2 m di European Southern Observatory La Silla di Chile. TW Hydrae terletak sektiar 182 tahun cahaya dari konstelasi Hydra.

Sumber: BBCIndonesia.com

Thursday, September 6, 2007

Nuclear, Solution or Destroyer? (Part 1)


Bilakah nuklir, --- yang pernah meluluhlantakkan negeri Sakura Jepang, mengganggu tidur nyenyak ratusan keluarga di Ukraina saat salah satu reaktor di pabrik nuklir Chernobyl meledak, atau membuat sekitar 10.000 jiwa warga Kazakhstan terisak lirih menanggung pedihnya luka radiasi akibat uji coba nuklir di Semipalatinsk --- harus menjadi diary usang dan segera dilupakan, guna memberi tempat bagi benda yang didaulat telah membunuh jutaan manusia itu sebagai solusi akhir kemelut kebutuhan energi masa depan yang kian hari makin meningkat?
Penggunaan energi nuklir masih menjadi polemik, meski banyak Negara telah menepis sisi buruk yang dapat timbul darinya. Citra buruk nuklir dipandang dari sisi bom atom (teori relativitas Einstein yang disalahgunakan), hampir menepis manfaat yang bisa diperoleh dari penggunaan nuklir. Misalnya jika dipandang pemanfaatannya dari sisi medis, budidaya tanaman hingga pembangkit tenaga listrik.
Nuklir Iran adalah merupakan salah satu isu terhangat saat ini yang membuat banyak negara terutama Amerika Serikat dan sekutunya menentang aktivitas pengembangannya. Tetapi siapa yang menyangka bahwa negara-negara yang menentang tersebut justru telah menjadi penggiat pengetahuan dan mengambil manfaat dari energi nuklir. Negara-negara maju yang menempatkan diri sebagai penentang tersebut ternyata tak lagi harus dipusingkan dengan krisis listrik karena telah lebih dahulu menggunakan energi nuklir.
Di Amerika, dikabarkan telah beroperasi lebih dari 104 unit pembangkit listrik bertenaga nuklir yang menyumbang 19,83% listrik bagi negara tersebut. Penggunaan teknologi nuklir terbesar di dunia terdapat di Perancis yang mencukupi 76,4% listrik di negara itu dari tenaga nukir.
Bahkan, negara yang pernah luluh-lantah akibat nuklir, Jepang, secara kontroversial melaksanakan kebijakan pengoperasian pembangkit listrik bertenaga nuklir, dan justru telah menjadi negara paling gigih dalam memanfaatkan reaktor nuklir untuk daya listrik bahkan pemilik teknologi reaktor nuklir paling maju dan aman.
Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) melansir, hingga tahun 2020 nanti, 126 PLTN akan dibangun di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut, 40 diantaranya akan dibangun di China karena negara itu membutuhkan banyak listrik untuk pemenuhan kebutuhan 1,3 miliar penduduknya.
Dengan kondisi demikian, apakah nuklir adalah solusi atau penghancur?. Dimana negara kita Indonesia akan berpijak yang tengah berkutat dengan kelangkaan energi khusunya energi listrik yang sering disiasati dengan pemadaman bergilir. Solusi yang sama sekali tidak menunjukkan ciri kecerdasan. (Sumber: diramu dari harian pagi Makassar, Fajar)
Bersambung

Friday, August 10, 2007

Albert Einstein: The Nobel Prize in Physics 1921


Albert Einstein was born at Ulm, in Württemberg, Germany, on March 14, 1879. Six weeks later the family moved to Munich and he began his schooling there at the Luitpold Gymnasium. Later, they moved to Italy and Albert continued his education at Aarau, Switzerland and in 1896 he entered the Swiss Federal Polytechnic School in Zurich to be trained as a teacher in physics and mathematics. In 1901, the year he gained his diploma, he acquired Swiss citizenship and, as he was unable to find a teaching post, he accepted a position as technical assistant in the Swiss Patent Office. In 1905 he obtained his doctor's degree.
During his stay at the Patent Office, and in his spare time, he produced much of his remarkable work and in 1908 he was appointed Privatdozent in Berne. In 1909 he became Professor Extraordinary at Zurich, in 1911 Professor of Theoretical Physics at Prague, returning to Zurich in the following year to fill a similar post. In 1914 he was appointed Director of the Kaiser Wilhelm Physical Institute and Professor in the University of Berlin. He became a German citizen in 1914 and remained in Berlin until 1933 when he renounced his citizenship for political reasons and emigrated to America to take the position of Professor of Theoretical Physics at Princeton. He became a United States citizen in 1940 and retired from his post in 1945.
After World War II, Einstein was a leading figure in the World Government Movement, he was offered the Presidency of the State of Israel, which he declined, and he collaborated with Dr. Chaim Weizmann in establishing the Hebrew University of Jerusalem.
Einstein always appeared to have a clear view of the problems of physics and the determination to solve them. He had a strategy of his own and was able to visualize the main stages on the way to his goal. He regarded his major achievements as mere stepping-stones for the next advance.
At the start of his scientific work, Einstein realized the inadequacies of Newtonian mechanics and his special theory of relativity stemmed from an attempt to reconcile the laws of mechanics with the laws of the electromagnetic field. He dealt with classical problems of statistical mechanics and problems in which they were merged with quantum theory: this led to an explanation of the Brownian movement of molecules. He investigated the thermal properties of light with a low radiation density and his observations laid the foundation of the photon theory of light.
In his early days in Berlin, Einstein postulated that the correct interpretation of the special theory of relativity must also furnish a theory of gravitation and in 1916 he published his paper on the general theory of relativity. During this time he also contributed to the problems of the theory of radiation and statistical mechanics.
In the 1920's, Einstein embarked on the construction of unified field theories, although he continued to work on the probabilistic interpretation of quantum theory, and he persevered with this work in America. He contributed to statistical mechanics by his development of the quantum theory of a monatomic gas and he has also accomplished valuable work in connection with atomic transition probabilities and relativistic cosmology.
After his retirement he continued to work towards the unification of the basic concepts of physics, taking the opposite approach, geometrisation, to the majority of physicists. Einstein's researches are, of course, well chronicled and his more important works include Special Theory of Relativity (1905), Relativity (English translations, 1920 and 1950), General Theory of Relativity (1916), Investigations on Theory of Brownian Movement (1926), and The Evolution of Physics (1938). Among his non-scientific works, About Zionism (1930), Why War? (1933), My Philosophy (1934), and Out of My Later Years (1950) are perhaps the most important.
Albert Einstein received honorary doctorate degrees in science, medicine and philosophy from many European and American universities. During the 1920's he lectured in Europe, America and the Far East and he was awarded Fellowships or Memberships of all the leading scientific academies throughout the world. He gained numerous awards in recognition of his work, including the Copley Medal of the Royal Society of London in 1925, and the Franklin Medal of the Franklin Institute in 1935.
Einstein's gifts inevitably resulted in his dwelling much in intellectual solitude and, for relaxation, music played an important part in his life. He married Mileva Maric in 1903 and they had a daughter and two sons; their marriage was dissolved in 1919 and in the same year he married his cousin, Elsa Löwenthal, who died in 1936. He died on April 18, 1955 at Princeton, New Jersey.

Wednesday, August 8, 2007

Albert Einstein: Fisikawan Terbaik Dunia


Albert Einstein dilahirkan di Ulm, Kerajaan Wuettemberg, Prusia Raya (sekarang Jerman), sebuah kota makmur di selatan Jerman pada hari Jumat tanggal 14 Maret 1879. Pada tahun 1980 bisnis ayahnya mengalami kegagalan, sehingga keluarga Einstein pindah ke Munich. Einstein terlahir dari pasangan Hermann Einstein dan Pauline Koch. Informasi jumlah saudara Einstein simpang siur, ada yang mengatakan Einstein anak tunggal dan ada juga yan mengatakan anak sulung karena memiliki adik perempuan bernama Maja.
Sebelum dikenal sebagai Ahli fisika yang spektakuler di jamannya bahkan sampai sekarang, Einstein kecil tidak memiliki keistimewaan bahkan nampak bodoh dan seperti anak yang terlambat perkembangannya. Ketika anak seusianya sudah dapat berbicara, ternyata Einstein belum bisa. Pada saat sekolah di tingkat SD, Einstein sama sekali tidak menampakkan kecemerlangan otaknya. Bahkan, bisa dikategorikan sebagai anak bodoh. Einstein tidak menyukai disiplin sekolah yang keras. Einstein juga tidak menyukai mata pelajaran hapalan seperti sejarah, geografi, dan bahasa. Ia tidak suka menghafalkan fakta dan data. Minatnya hanya pada fisika dan matematika, terutama teori. Kegemaran utama Einstein adalah membaca, berpikir, dan belajar sendiri. Tak heran jika guru-guru menganggapnya pemalu, bodoh, malas belajar, dan pelanggar tata tertib.
Minat dan kecintaannya pada fisika dimulai pada saat ia berusia lima tahun. Saat ia terbaring lemah di tempat tidur akibat penyakit yang dideritanya, ayahnya memberikan hadiah sebuah kompas. Kebesaran dan keagungan alam semesta yang terefleksi dalam sebuah kompas mempesonanya dan membulatkan tekadnya untuk menguak segala tabir misteri yang berada di balik segala fenomena alam.
Kelakuan Einstein tidak berubah bahkan setelah duduk di bangku SMP. Karena hanya mau mempelajari fisika dan matematika, ia tamat SMP tanpa mendapat ijazah. Pada saat yang bersamaan, perusahaan ayahnya bangkrut. Terpaksa ia meninggalkan Jerman dan ikut orangtuanya ke Swiss. Di sana ia melanjutkan sekolah ke SMA dan berhasil lulus.
Namun, ketika akan melanjutkan ke perguruan tinggi, ia harus mengulang sampai dua kali. Akhirnya ia diterima di Institut Politeknik di Zurich, Swiss. Namun, tabiatnya tetap tidak berubah, Ia jarang kuliah. Kalau saja temannya tidak meminjaminya catatan, barangkali ia tidak lulus dari kampus dan menjadi mahasiswa abadi.
Setelah dua tahun menganggur, akhirnya Einstein memperoleh pekerjaan di kantor paten di Swiss. Sambil menekuni kesibukannya di kantor paten, bahkan pernah ia dinobatkan sebagai Best Employer oleh atasannya. Einstein tidak pernah melupakan janji kepada dirinya sendiri untuk berkarir di bidang pengembangan ilmu pengetahuan khususnya fisika.
Tahun 1905, terbitlah empat tulisannya tentang teori relativitas dalam majalah sains Annalen der Physik. Tulisannya ini mengundang banyak kontroversi dan perdebatan di antara para ilmuwan ternama saat itu. Salah satu tulisannya tersebut diselesaikannya dalam lima minggu setelah mengendap dalam pikirannya sejak Einstein berusia 16 tahun. Luar Biasa!
Tahun 1909, Einstein diangkat sebagai profesor di Universitas Zurich. Tahun 1915, Einstein menyelesaikan kedua teori relativitasnya. Penghargaan tertinggi atas kerja kerasnya sejak kecil terbayar dengan diraihnya Hadiah Nobel pada tahun 1921 di bidang ilmu fisika. Einstein juga mengembangkan teori kuantum dan teori medan menyatu. Tahun 1933, Einstein beserta keluarganya pindah ke Amerika Serikat karena khawatir kegiatan ilmiahnya, baik sebagai pengajar ataupun sebagai peneliti terganggu. Tahun 1941, Einstein mengucapkan sumpah sebagai warga negara Amerika Serikat.
Karena ketenaran dan ketulusannya dalam membantu orang lain yang kesulitan, Einstein ditawari menjadi presiden Israel yang kedua. Namun jabatan ini ditolaknya karena ia merasa tidak mempunyai kompetensi di bidang itu.
Akhirnya pada tanggal 18 April 1955, Einstein meninggal dunia dengan meninggalkan karya besar yang telah mengubah sejarah dunia. Kendati begitu, Einstein sempat menangis pilu dalam hati karena karya besarnya – teori relativitas umum dan khusus – digunakan sebagai inspirasi untuk membuat bom atom. Bom inilah yang dijatuhkan di atas kota Hiroshima dan Nagasaki saat Perang Dunia II berlangsung.
Einstein meninggalkan sebuah wasiat bagi para generasi penerus yang ingin mengikuti jejaknya. Pesannya: ”Persyaratan paling penting bagi orang yang ingin menjadi seperti saya adalah mawas diri dalam hal APA yang di-PIKIR-kannya serta BAGAIMANA ia ber-PIKIR, bukan dalam hal APA yang di-KERJA-kannya atau di-ALAMI-nya”. Sebuah pesan yang sangat dalam yang patut kita renungkan.

Friday, June 22, 2007

IT: Sebuah Jawaban

Kita mungkin malu mengakui bahwa Negara kita Indonesia sangat tertinggal jauh dari negara lain dalam bidang Teknologi Informasi bahkan pada skala kecil misalnya Asia Tenggara. Kita tidak mampu berbicara banyak tentang bidang yang satu ini bahkan mungkin juga untuk bidang-bidang yang lain. Singapura dengan jumlah penduduk yang sangat kecil dibanding Indonesia dengan luas wilayah yang tak lebih besar dari pulau Jawa mampu menempatkan diri sebagai "Raksasa Teknologi Informasi" di Kawasan Asia Tenggara.
Pertanyaan yang sangat manusiawi muncul "dimana Indonesia?". Kita masih tertinggal jauh. Padahal Sekolah Tinggi, Akademi bahkan Universitas yang berbasis TI menjamur di negara kita, tetapi apa yang telah diperbuat?. Dengan kualifikasi yang mereka miliki seharusnya kita tidak ragu untuk menggantungkan harapan dalam upaya peningkatan Indonesia dalam dunia TI.
Jika kita memiliki SDM yang sedemikian hebatnya?, lalu di mana permasalah yang paling fundamental?. Menurut survey, Indonesia adalah negara dengan tarif layanan internet termahal di dunia, jika demikian bagaimana IT di negeri ini bisa memasyarakat jika yang mengkonsumsi simbol perkembangan TI ini hanya bisa dilakukan oleh kalangan elite.
Bahkan yang paling menyedihkan, provider penyedia jasa internet itu bukan lagi murni milik Indonesia tetapi telah terjual dan dimiliki oleh pihak asing. Tentu saja jika demikian kondisinya, orientasinya bukan untuk memasyarakatkan TI tetapi bagaimana menarik keuntungan sebanyak mungkin.
Pemerintah seharusnya peduli dengan permasalahan ini dengan menyiapkan perangkat hukum yang jelas untuk berupaya menumbuhkembangkan IT di negeri ini. Perangkat hukum itu seharusnya mampu memberikan peluang kepada anak negeri untuk mengakses internet seluas-luasnya, memberi peluang kepada pengusaha untuk mencipta sendiri perangkat keras dan perangkat lunak untuk mendukungnya. Jika demikian adanya, maka negara kita tak lagi menjadi konsumtif tetapi kita berharap menjadi produsen. Ketika itu terjadi, Indonesia akan tercatat sebagai negara dengan IT yang dperhitungkan di dunia.

Tuesday, April 10, 2007

Hepatitis B

"Pengobatan hepatitis B kronis dilakukan dengan cara mengurangi peradangan, gejala, dan infeksi. Interferon alfa rekombinan saat ini merupakan satu-satunya anti-virus yang disetujui untuk hepatitis. Obat ini mampu menghentikan replikasi virus pada 37 persen pasien. Namun, obat ini selain harganya sangat mahal, ternyata tidak efektif pada kebanyakan pasien dan menimbulkan sejumlah efek samping. Antara lain gejala seperti flu, demam, kedinginan, rasa letih, nyeri otot, serta gemetar.
Sayangnya, vaksin yang ada baru bisa mencegah terjangkitnya hepatitis B. Meski begitu, peluang untuk sembuh dari berbagai penyakit ini masih terbuka, apalagi cangkok hati pun mulai dimungkinkan"
.
Tulisan di atas aku peroleh dari berbagai situs. Cukup ngeri juga membacanya. Betapa tidak, aku salah satu orang yang tidak beruntung menderita penyakit itu. Seketika aku berfikir bahwa umurku tinggal sesaat lagi.
Aku menyesal mengetahui diriku mengidap penyakit ini. Sekitar tahun 2003-2004 salah seorang teman mencari golongan darah A karena orang tuanya mau dioperasi. Karena memiliki jenis darah yang sama, aku bersedia diajak ke PMI Cabang Makassar untuk melakukan donor darah. Alhasil aku gak bisa donor karena aku ditengarai mengidap penyakit hepatitis B. Aku tidak begitu ambil pusing dengan penyakit ini, bahkan obat tradisional yang diberikan orang tuaku tidak pernah aku gunakan. Gejala penyakit ini hanya aku ketahui dari orang-orang dan terbukti gejala itu sering menghampiriku.
Aku mulai khawatir dengan penyakit ini dari seorang teman yang namanya Shanty. Aku iseng-iseng cerita tentang penyakit ini, karena saat kami ketemu aku kembali merasakan gejala penyakit ini. Malamnya saat kami ngomong di telpon dia begitu khawatir dengan penyakit yang aku derita ini karena katanya dia membaca referensi tentang itu. Aku memang tau sekilas bahwa penyakit ini sulit sembuh dan belum ada obatnya yang tepat. Dia sampai harus menangis dengan mengetahui penyakitku. Aku mulai sadar betapa penyakit ini berbahaya dan boleh jadi akan mengakhiri hidupku.
Yang lebih parah ternyata penyakit ini bisa menular ke orang lain dengan kontak fisik. Haruskah aku menyebabkan orang lain mengidap penyakit ini. Haruskah aku menulari istriku jika kelak aku menikah, haruskah aku menulari anakku jika nanti aku dikaruniai anak?. Aku mungkin lebih baik hidup seperti ini saja, sendiri tanpa harus membuat orang lain menderita. Tuhan Adilkah ini?
Aku sungguh menyesal mengapa harus tau mengidap penyakit ini dan akibat yang bisa ditimbulkannya. Andai saja aku tetap dalam ketidaktahuan.
Tetapi mungkin ini takdirku. Kalaupun aku harus meninggalkan dunia ini dalam waktu dekat, mau apa lagi. Itulah suratan takdir yang tidak mungkin aku lawan.