Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Sunday, January 17, 2010

PUISI BULUKUMBA, KOTA PENYAIR

Oleh: Andhika Mappasomba

Bulukumba, Kota Sejuta Penyair

Aku lahir di sini dari rahim ibu yang menua pada waktu tanah merah hitam yang menggumpal bekukan batang jagung dan batang padi dan asin airnya mengalir dalam darahku bersama nyanyian nyiur yang melambai-lambai pada garis pantainya memanggil-manggil, menggema, memanjat batang kelor dalam sajak rindu-rindu pada negeri ibu, negeri sejuta nahkoda negeri sejuta panrita negeri sejuta nahkoda Bulukumba

Walau
Aku bertualang melangkah mendaki ke dalam belantara kehidupan
terbang ke langit kelima menyusup ke dalam batas bumi
bertemu jawara-jawara yang menikam sukma
Aku tak melupakan kokoh tiang pinisi
menantang ombak sembilan samudera
Aku tak melupakanmu negeriku, negeri sejuta nahkoda dan panrita,
negeri sejuta dongeng, negeri sejuta pau-pau, negeri sejuta budaya
kota sejuta penyair
Bulukumba

Walau
Aku bertualang masuk ke dalam hidup
menemui pengantinku di negeri jauh
lalu bercinta di batas lelah lunglai di puncak sepi
rindu tak pernah usai menyanyi dalam qalbu
memanggil-manggil pulang
memanggil-manggil pulang
melewati pematang sawah
menyusuri sungai, tepian pantai, lereng bukit
merenangi laut Flores dan teluk Bone
melintasi Lompo Battang
Datang padamu Bulukumba, meneguk airmu, mengupas jagungmu,
menumbuk padimu, memetik daun kelormu,
mencubit daging tuing-tuing, loka-loka, lure, lajang,
yang kukulum bersama sayur kelor dan nasi kampo'do'

Uh
Najis rasanya pizza ayam goreng Amerika
Muntah rasanya makan sozzis dan conello Cina
Muntah rasanya minum minuman karbonat Jepang
Muntah rasanya makan gorengan dari minyak goreng Malaysia

Biarlah di kota sejuta penyair
kunikmati dendeng capi, poca'-poca', sanggara bambang, sarabba,
lopisi, dumpi eja, kampalo, gogoso, baruasa, taripang, uhu'-uhu',
cucuru dari minyak rakang

Kota ini, Bulukumba, kota mendunia
kota sejuta penyair

Di sana kalian punya patung liberty
kami punya patung pinisi
Di sana kalian punya pantai Hawai dan Bombai
kami punya pantai Bira, Dajo, Lemo-lemo, Batu Tallasa, Samboang,
Turungang Beru, Kajang Kassi, Kasuso, Pantai Ara, Pantai Merpati,
dan Leppe'e
Di sana kalian punya Monte Karlo
kami punya tebing Lahongka
di sana kalin punya zamba, acapela, capuera
kami punya kelongpajaga, gandrang jong, dan mancak baruga
di sana kalian punya Indian, Aborigin, dan Apache
kami punya Kajang Tana Toa

kota ini, Bulukumba, kota mendunia
kota pelabuhan rindu, negeri ibu
KOTA SEJUTA PENYAIR
BULUKUMBA

Bulukumba, 19 Juli 2008
(Dikutip dari Catatan Andhika Mappasomba di jejaring sosial Facebook atas persetujuan beliau)

Monday, September 1, 2008

Tercerabut Tiada Pantas

Membiarkan diri tercerabut
Mengatur langkah menjauh pergi
Meski tertatih menahan keperihan rasa
Menjauhkan diri karena tiada pantas

Semua kini telah berlalu
Seiring waktu tak henti berdenyut
Menyingkap rahasia yang terkubur lapuk
Menyeruak tanya tambahkan perih

Ada apa dengannya…
Tak tercerabut meski juga tak pantas
Tetap menghirup udaramu dengan senyumnya
yang kalian hapus dari bibirku

Kutelan ini dengan terpaksa
Membiarkan diri tercerabut dan terusir
Menyadarkan diri akan sebuah arti
Aku… Akulah yang tidak diinginkan

Wednesday, February 20, 2008

Mata & Hati

Hanya yang buta mata dan hatinya...
Yang tidak mampu melihat ketulusan

Hanya yang buta mata dan hatinya...
Yang tidak mampu melihat keikhlasan

Hanya yang buta mata dan hatinya...
Yang tidak mampu melihat keseriusan

Hanya yang buta mata dan hatinya...
Yang tidak mampu melihat kesungguhan

Hanya yang buta mata dan hatinya...
Yang hadirkan ragu dalam dirinya

Friday, April 6, 2007

Jujurlah Padanya

Oleh: Andhika Mappasomba
Kukatakan kawan,
Jangan tutupi kebenaran cintamu
Sebab kebohongan akan merobohkanmu dengan perlahan
Aku melihat pahatan kesetiaan antara kalian
Mestikah usai dengan kepalsuan semu

Kukatakan kawan,
Jujurlah padanya tentang kebohonganmu
Sebelum samurai berkilat melukai
dan air mata tak akan sanggup mengobati luka berderai
Bila kau lelaki sejati, sanggupkah kau menikmati luka
yang kau sayatkan pada dada kekasihmu
yang tak henti-henti menyanyikan namamu
merindui bau tubuhmu

Bagiku,
Bukan pengkhianatan yang kau harus lakukan
tapi sebuah jalan dan kabar baru
Merekatkan cinta yang telah lama ada dan setia

Makassar, 9 November 2004
(kepada kawanku Syarief dan Nita Amriani yang bahagia)

Akulah Pecundang Setia

Oleh: Andhika Mappasomba

Kau boleh ragu pada puisi para pujangga
Kau boleh ragu pada janji para pencinta
Kau boleh tak percaya pada ungkapan cinta para lelaki duri
Kau boleh tak percaya pada bujuk rayu para pembujuk

Tapi
Kau harus percaya tentangku
Akulah pecundang setia
Tak mau mengatakan cinta yang ada
Tak mau mengakui jika tak ada mawar mekar selain kau di hatiku
Tak mau mengakui tentang mabuk kasmaranku dan rinduku pada tatapanmu
Tak mau mengakui bahwa aku ingin memilikimu utuh satu rasa suka dan haru

Aku pecundang setia yang membungkus rasa malu dengan diam
Aku pecundang setia, setia untuk tak mau mengakui rasa yang sesungguhnya
Sebab kutakut kau tahu tentang kemunafikanku yang utuh
untuk sepenggal kebenaran

Wednesday, January 25, 2006

Pengantin Bugis Makassar

By: Andhika Mappasomba
(Barisan Sastrawan Muda Makassar)

atas nama tradisi
dan budaya yang tinggi kata mereka
rupa-rupa adat harus terpenuhi
pada materi yang berat
dipikul dengan tertatih
tak perduli perawan menjadi tua
bujang lapuk cemas menanti hari
seusai pesta pengantin
bersiaplah menyicil harga diri
hingga nanti
ketika nikah sudah bukan membeli

(Persembahan untuk kaum hawa Bugis Makassar
yang memasang tarif tinggi untuk maharnya)


Makassar, 5 November 2004